| Home | Book-Literature | Inspiring-Religion | Economy-Business | Social-Cultural-Languange | Politics-Conspiracy | Health-Sport | Music-Movie | Femininity-Parenting |
Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Tuesday, 9 February 2016

BARNABAS, PAULUS & SEJARAH KRISTEN (PART 2)


BARNABAS DAN PENGIKUT YESUS PALING AWAL
Barnabas adalah seorang Yahudi yang lahir di Siprus, nama aslinya adalah Joses (Yusuf Levi). Dalam pengabdiannya kepada Yesus, para rasul lain memberi nama Barnabas yang artinya anak pelipur lara atau anak nasihat bijak. Dia termasuk pengkhotbah sukses dengan daya tarik pribadinya yang kuat. Siapa saja yang merasa sangat terganggu akibat konflik ajaran, merasa terhibur dan damai dalam bimbingannya. Keistimewaannya sebagai seorang yang pernah begitu dekat dengan Yesus telah membuatnya menjadi anggota terkemuka dari kelompok kecil murid-murid di Yerusalem yang menjalin kebersamaan setelah Yesus lenyap. Mereka mencermati Hukum Kenabian, yang dibawa oleh Yesus “Bukan untuk menghancurkan tapi untuk memenuhi(Matius 5: 17). Mereka meneruskan kehidupan sebagai orang Yahudi dan mempraktikkan apa yang diajarkan oleh Yesus kepada mereka.

Bahwa Kristen yang dapat dianggap sebagai sebuah agama baru, tidak terjadi di kalangan mereka.

Mereka adalah orang-orang saleh yang menjalankan tradisi Yahudi dan mereka dibedakan dari para tetangga mereka hanya karena faktor keimanan mereka kepada ajaran-ajaran Yesus. Pada awalnya mereka tidak mengorganisir diri mereka sebagai sebuah sekte yang terpisah dan tidak memiliki sinagog khusus.

Tidak ada satupun dari ajaran Yesus, sebagaimana yang dimengerti oleh mereka, yang mengharuskan permusuhan kepada umat Yahudi. Namun mereka menentang kepentingan pribadi dari para elit Yahudi.

Konflik yang terjadi antara umat Yahudi dengan para pengikut Yesus bermula dari para elit Yahudi yang merasa bahwa umat Kristen ini akan merendahkan otoritas mereka. Jurang konflik yang berlangsung dengan cepat meluas. Selama pengepungan Yerusalem di tahun 70 M., umat Kristen berbondong-bondong meninggalkan kota dan menolak untuk terlibat dalam pemberontakan Bar Coachaba pada tahun 132 M. Dua peristiwa ini telah mencuatkan perbedaan antara umat Kristen dengan umat Yahudi.

Pertanyaan tentang awal kemunculan Yesus, sifat-sifatnya dan hubungannya dengan Tuhan, yang di masa kemudian menjadi begitu penting, belum muncul di kalangan murid-murid yang paling awal ini.

Bahwa Yesus sebagai seorang manusia yang dianugerahi kelebihan supranatural oleh Tuhan, diterima dengan penuh keyakinan. Tak satupun ucapan Yesus atau berbagai peristiwa dalam hidupnya yang membuat mereka merasa harus mengubah pandangan tersebut.

Menurut Aristides, salah seorang apologis (pembela keyakinan) paling awal, bahwa ritual ibadah yang dilakukan oleh umat Kristen paling awal adalah lebih tinggi kadar monoteistiknya bahkan jika dbandingkan dengan monotheisme umat Yahudi sekalipun.


PENUHANAN YESUS OLEH PAULUS (SAULUS)
Dengan adanya perubahan dari seorang Paulus lahirlah era baru dalam teologi Kristen. Teologi Paulus didasarkan pada pengalaman pribadinya yang diinterpretasikan dalam cahaya pemikiran Yunani Kontemporer. Teori penebusan dosa adalah hasil pemikirannya, sebuah keyakinan yang sama sekali tidak diketahui oleh murid-murid Yesus. Teori Paulus ini telah mengakibatkan penuhanan Yesus.

Periode Paulus dalam sejarah gereja Kristen diwarnai oleh perubahan suasana dan perubahan prinsip-prinsip. Sebagai ganti dari para murid (12 murid) yang begitu dekat dengan Yesus, muncul figur baru (Paulus), yang belum pernah melihat dan mendengar Yesus secara langsung, yang memimpin di baris terdepan. Sebagai ganti dari Palestina, imperium Romawi menjadi latar belakang bagi kegiatan-kegiatan umat Kristen. Selain itu, alih-alih menjadi salah satu sekte Yudaisme, umat Kristen menjadi independen dan terpisah dari Yudaisme. Akhirnya muncul menjadi agama baru yang kita kenal sekarang.

Paulus sebenarnya lahir sebagai seorang Yahudi dan warga Tarsus. Namun dia lama tinggal di Roma dan menjadi penduduk Romawi. Dia kemudian menganut dengan teguh agama Romawi yang telah memasyarakat. Kaum intelektual pada saat itu ada di bawah pengaruh filsuf Plato dan Aristoteles. Paulus merasa bahwa tidak mungkin untuk mengubah masyarakat di wilayah imperium Romawi tanpa membuat beberapa penyesuaian bersama. Tapi tentu saja kebijakan Paulus ini tidak mungkin untuk diterima oleh orang-orang yang pernah melihat dan mendengar langsung Yesus dan ajarannya. Namun meski diwarnai oleh perbedaan, mereka kemudian memutuskan untuk bekerjasama untuk tema-tema yang bersifat umum.

Sebagaimana digambarkan dalam Kisah Para Rasul; Barnabas, yang merepresentasikan diri sebagai murid pribadi Yesus, dan Paulus yang bekerjasama dengan mereka dalam beberapa kesempatan. Tapi akhirnya konflik antara kedua pihak semakin meruncing.

Paulus ingin menghapus perintah-perintah Tuhan kepada Nabi Musa AS. (Moses) tentang hal-hal yang boleh dimakan. Dia juga hendak menghapus perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim AS. (Abraham) tentang keharusan berkhitan. Barnabas beserta murid-murid langsung Yesus merasa sangat keberatan.

Setelah konflik tersebut kedua belah pihak memutuskan untuk mengambil jalan mereka masing-masing. Dalam Kisah-Kisah Para Rasul, Barnabas menghilang setelah terjadi pertikaian, karena proses penulisan Kisah-Kisah para Rasul dilakukan oleh para pengikut Paulus.
Disebabkan oleh kompromi Paulus dengan keyakinan dan legenda Romawi maka para penganut Kristen yang berorientasi pada ajaran Paulus berkembang sangat pesat dan semakin bertambah kuat. Dalam tahap berikutnya, tercapailah prestasi dimana para raja ditundukkan dan dijadikan alat demi memenuhi kepentingan gereja.

Para pengikut Barnabas tidak pernah mengembangkan sebuah organisasi yang terpusat. Namun demikian mereka tetap setia pada pemimpin mereka dan jumlah mereka bertambah dengan sangat cepat. Mereka telah menimbulkan kemurkaan gereja yang kemudian mengupayakan tindakan sistematis untuk menghancurkan mereka dan untuk memusnahkan semua jejak eksistensi mereka, termasuk buku-buku dan gereja-gereja mereka.
Situasi yang tak terorganisir dari para pengikut Barnabas ini justru menjadi kekuatan mereka, karena menjadi tidak mudah menangkap mereka.

Penelitian modern telah memberi kejelasan tentang fakta unik para pengikut Barnabas: mereka bagaikan pucuk-pucuk ombak dan dengan melihat mereka seseorang tak dapat memvisualisasikan keseluruhan laut yang membentang.


MONOTHEISME DALAM KRISTEN
Hingga abad ke-4 M., terdapat sebuah sekte yang dikenal dengan sebutan Hypsistarian yang menolak menyembah Tuhan sebagai Bapa. Mereka memujaNYA sebagai penguasa dunia Yang Maha Agung, dan Maha Tinggi dan tak satupun yang dapat menyamaiNYA.

Paul dari Samasata adalah seorang uskup di Antiokia. Dia telah berpandangan bahwa kristus itu bukan tuhan tapi seorang manusia dan seorang nabi. Dia hanya membedakan kristus dengan para nabi sebelumnya dan pada intinya tuhan tidak dapat menjadi seorang manusia.

Kemudian ada uskup Antiokia yang lain yaitu Lucian. Reputasinya sebagai seorang uskup sebanding dengan kemasyurannya sebagai seorang cendikiawan. Dia menentang keras doktrin Trinitas. Dia menghapus semua sebutan Trinitas yang ditambahkan dan disisipkan dari Bibel yang ia yakini yang tidak terdapat dalam Gospel yang paling awal. Dia menjadi seorang martir pada tahun 312 M.

Selanjutnya ada murid Lucian yang termasyur yaitu Arius (250-336 M). Arius lahir di Libya. Uskup Peter dari Alexandria mentahbiskannya sebagai Diaken - pembantu gereja yang mengerjakan kewajiban-kewajiban di gereja - namun kemudian mengucilkannya.
Achilles, penerus uskup Peter, sekali lagi mentahbiskan Arius sebagai pendeta. Alexander yang merupakan uskup Alexandria berikutnya, sekali lagi mengucilkannya.
Namun Arius berhasil mengumpulkan banyak pengikut yang memusingkan gereja. Jika Arius tidak dilibatkan di dalam dewan gereja, beliau dapat menjadi sangat berbahaya bagi gereja, namun pendapat-pendapatnya yang mengukuhkan kesatuan dan kesederhanaan tuhan yang abadi tidak dapat diterima gereja. Dia percaya bahwa bagaimanapun kristus melampaui makhluk ciptaan dimana dia sendiri bukan merupakan substansi yang sama sebagai tuhan. Dia adalah seorang manusia sebagaimana manusia lainnya. Ajaran Arius ini berkembang pesat mengguncang sendi-sendi gereja Paulus (sekarang dikenal dengan gereja Roma atau Vatikan). Sebelumnya tak ada seorangpun yang berani menentang gereja resmi Roma, namun Arius melakukannya.
Tinggal menunggu waktu bahwa akan semakin banyak penganut kristen yang percaya bahwa Yesus bukan tuhan namun utusan. Dan doktrin Trinitas akan runtuh dengan sendirinya.

Thursday, 24 July 2014

JARINGAN ZIONIS ISRAEL DI INDONESIA

    Banyak orang Indonesia yang  menjadi bagian dari jaringan Zionis Israel, termasuk dari kalangan tokoh-tokoh Islam. Beberapa orang bahkan menghadiri hari ulang tahun kemerdekaan Zionis Israel di Singapura. Dengan menghadiri kemerdekaan Zionis-Israel secara tidak langsung mereka memberikan pengakuan eksistensi Zionis-Israel atas pendudukan tanah Palestina yang dirampasnya sejak sebelum kemerdekaan tahun 1948. Bukan sekali ini saja orang Indonesia berkunjung ke Kedutaan Israel di Singapura, karena Singapura menjadi pintu bagi orang ataupun kelompok yang ingin menjadi bagian penting Zionis Israel di Asia. 
     Di tahun 2007 tanggal 8 Desember, Jerusalem Post pernah memberitakan lima orang tokoh yang mewakili Ormas Islam Indonesia (Nahdathul Ulama dan Muhammadiyah) yang menghabiskan waktu selama seminggu di Israel. Mereka bertemu dengan berbagai tokoh puncak Zionis Israel termasuk Presidennya kala itu yaitu Shimon Peres. Wajar saja karena kunjungan mereka disponsori oleh Simon Wiesanthal Center dan LibForAll Foundation.
Tokoh Muhammadiyah yang pernah berkunjung ke Israel diantaranya Syafiq Mugni selaku Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dari PP Muhammdiyah Dr. Habib Cirzin pun pernah berkunjung ke Israel.
Saat bertemu dengan Shimon Peres, Syafiq Mugni menghadiahkan sebuah tutup kepala yang disebut Kippa bertuliskan kata Shalom, yang dalam bahasa Ibrani berarti kedamaian. Para tamu Indonesia bahkan tampak gembira ketika Peres langsung memasang kippa tersebut di kepalanya.

      Mereka melanjutkan pembicaraan dengan berbagai topik, termasuk ekonomi, politik, agama dan perayaan hari jadi  Israel ke 60 bulan Mei 2008. Bahkan kemungkinan membuka hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Israel.
Shimon Peres mengungkapkan, Israel berbahagia bisa berhubungan dengan Indonesia serta mengundang para pemimpinnya. Peres akan mengundang kembali para tokoh Indonesia untuk doa perdamaian di saat Negeri Zionis ini akan memperingati hari jadinya ke-60 bulan Mei 2008. Dalam kesempatan itu, Peres juga mengatakan musuh Israel bukanlah Islam tapi "teror". 

  Syafiq Mugni menjelaskan tentang perkembangan ekonomi, demokrasi dan sistem pendidikan di Indonesia. Syafiq berharap Muslim Indonesia lebih toleran, meski sebagian juga masih ada yang menentang demokrasi. Sementara itu, Wakil NU Abdul A'la mengakui masih ada kelompok kecil "ekstrimis" Muslim di Indonesia.

     Selain itu, delegasi Ormas NU dan Muhammadiyah dengan ditemani Kepala Wiesenthal Center Associate, Rabbi Abraham CooPeres dan CEO LibForAll Foundation,  C.C. Holland Taylor, ikut serta dalam suatu upacara cahaya lilin Hanukka yang diikuti dengan tarian di Hesder Yeshiva di Kiryat Shmona.
LibForAll Foundation disebut-sebut sebagai lembaga Zionis yang berkedok Liberalisme dan Pluralisme di Indonesia. Kelompok ini banyak berhubungan dan berkolaborasi dengan berbagai Ormas Islam di Indonesia dengan tujuan membangun hubungan lebih inten dengan Zionis Israel.

      Sudah bukan rahasia lagi bahwa ada kedekatan antara Israel dengan Alm. Abdurrahman Wahid – yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Di masa pemerintahan beliau Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gus Dur bertemu dengan Presiden Shimon Peres dan menjadi anggota Yayasan Institute Shimon Peres. Bapak Pluralisme – julukan dari Presiden SBY – bahkan pernah mendapat hadiah Medali Keberanian (Medal  of Valor) dari Yahudi Internasional 6 tahun silam (6 Mei 2008). Upacara penganugrahan baerlangsung meriah di Beverly Wilshire Hotel, 9500, Wilshire Blvd, Beverly Hills, Los Angeles, California, USA.
Acara tersebut dihadiri beberapa tokoh terkemuka Yahudi dari seluruh Amerika Serikat, termasuk bintang film Will Smith.

      Itu hanyalah bagian kecil saja dari cerita besar tentang Israel’s connection di Indonesia. Pada jamannya Jenderal Benny Murdani, militer Indonesia juga mempunyai hubungan dekat dengan Zionis Israel, seperti digambarkan dalam buku biografinya Jenderal Sumitro. Meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel tetapi hubungan berjalan di segala bidang, termasuk bidang perdagangan dan teknologi. Pernah menjadi perbincangan hangat saat perusahaan Israel memenangkan tender perusahaan telekomunikasi di Indonesia (Indos*t).

     Berita tentang kedatangan sejumlah Warga Negara Indonesia dalam upacaya hari ulang tahun kemerdekaan negeri Zionis Israel di Singapura di atas hanyalah puncak gunung es. Sebenarnya jaringan Israel’s connection telah mengakar cukup dalam, bahkan sejak sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Di Manado terdapat Sinagog, yang menjadi tempat berkumpulnya jaringan Israel’s connection di Indonesia.  Di daerah lain pun dapat ditelusuri jejak-jejak keberadaan mereka, baik melalui bangunan-bangunan bekas sinagog maupun ajaran serta orang-orang yang mempunyai hubungan dengan mereka.

RELATED POSTS:






[Sumber: voa-islam.com]


ZIONIS ISRAEL HANCURKAN MASJIDIL AQSHA

     Sejak tujuh tahun silam (Selasa, 6 Februari 2007) Zionis Israel telah secara terang-terangan memulai proyek penghancuran Masjidil Aqsha yang merupakan masjid tersuci ketiga bagi umat Islam sedunia. Jika sebelumnya mereka melakukan hal ini secara diam-diam dan menyangkalnya dengan berbagai dalih, namun pada hari itu mereka telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka memang berniat menghancurkan masjid yang pernah menjadi kiblat pertama bagi kaum Muslimin ini. Upaya Zionis Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha telah lama diketahui dunia. Keinginan mereka untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple) di atas reruntuhan Masjidil Aqsha menjadi alasan utama mereka.  

HAIKAL SULAIMAN
     Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman A.S. 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut. Setelah itu tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Di tahun 70 M pasukan Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman sampai rata dengan tanah.

    Abad demi abad terus berjalan namun cita-cita Zionis Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya. Tahun 1897 di Bassel, Swiss, gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama. Memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai “Promise Land” (Tanah yang dijanjikan).

     Kaum Zionis secara sepihak mengklaim bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya. Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia, bukan Mekkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaimanlah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukan tanpa landasan. Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa A.S., bangsa Yahudi meyakini bahwa suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina. Namun hal ini menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi antara yang Pro-Zionis dengan yang Anti-Zionis.  Bagi yang Pro-Zionisme mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya dan menjalankan Satu Pusat Pemerintahan Dunia (One World Order). Sedangkan bagi kaum Yahudi Anti-Zionisme, Messiah sendirilah yang akan datang dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman.
       Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman tepat berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan pun masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sesungguhnya berada di luar kompleks Masjidil Aqsha.

     Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Mereka juga terus melakukan penggalian di bawah tanah Masjidil Aqsha dengan alasan tengah melakukan riset arkeologis. Tidak hanya itu, di dalam terowongan-terowongan yang digali mereka juga mengalirkan air dalam jumlah besar dengan tujuan menggoyahkan kekuatan tanah di bawah masjid agar pondasi masjid menjadi rapuh. Akibatnya sekarang ini banyak pondasi masjid yang sudah rapuh.

     Sekarang pun Zionis telah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera datang?

DATANGNYA MESSIAH
     Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, Presiden Zionis Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi permintaan agar Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka. Kaum Zionis masih ingat betul ketika di tahun 70 M pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.
Meskipun harta karun telah dikembalikan, masih ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah yaitu mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak. Untuk syarat ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Di tahun 1997 melalui suatu proses rekayasa genetika, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.
Hanya saja mereka masih terbentur satu persyaratan lagi, yaitu penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun. Sedangkan daerah ini sekarang belum bisa dijajah Zionis Israel seperti wilayah Palestina lainnya. Kaki Bukit Zaitun masih berada di tangan yang berhak, yakni bangsa Palestina. Karenanyalah kaum Zionis terus berupaya mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.

     Demi mencapai tujuannya, kaum Zionis memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Kristen dan kaum Muslimin. Untuk memperdaya umat Kristiani, kaum Zionis menyusupkan nilai-nilai Talmud ke dalam Bibel seperti yang terjadi pada Injil Scofield atau Injil Darby. Bahkan Injil Versi King James sebagai Injil resmi Barat pun demikian. Makanya menjadi sangat wajar jika sekarang ini sikap politik umat Kristiani seolah sama sebangun dengan kaum Yahudi. Padahal di dalam banyak ayat-ayat Talmud, kaum Yahudi  begitu keras permusuhannya terhadap Kristen dan Yesus.
Keyakinan Injil juga menyebutkan tentang hadirnya The Christ kembali ke muka bumi, yang disebut The Second Coming atau Maranatha, dalam wujud Tuhan seutuhnya. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem. Kesamaan pandangan inilah yang membuat orang-orang Kristen mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Kristen ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak bisa bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu agenda utama Zionis adalah meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.
      Dari sisi hukum internasional pun upaya penghancuran Masjidil Aqsha tidak bisa dibenarkan. Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis agar mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, serta menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yaitu rakyat Palestina. Namun kenyataannya resolusi ini tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

     Menurut keyakinan Zionis, jika Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman maka Messiah akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yaitu Yahudi itu sendiri.

RELATED POSTS:




[Sumber: eramuslim.com]


Friday, 18 July 2014

SEJARAH PALESTINA

       Palestina adalah sebuah nama untuk menyebut wilayah barat daya Negeri Syam. Sebuah wilayah yang terletak di bagian barat Benua Asia dan bagian pantai timur Laut Tengah. Palestina terletak di titik strategis karena dianggap sebagai penghubung antara benua Asia dan Afrika, disamping sebagai sentra yang mempertemukan wilayah dunia Islam.
Nama klasik yang terkenal untuk sebutan negeri ini adalah “Tanah Kan’an” karena yang pertama kali bermukim di sini yang dikenal dalam sejarah adalah bangsa Kan’an, mereka datang dari Jazirah Arab sekitar 2500 tahun Sebelum Masehi (SM). Adapun nama Palestina sendiri diambil dari salah satu bangsa-bangsa pelaut, kemungkinan mereka datang dari daerah barat Asia kecil dan wilayah laut Ijah sekitar abad ke 12 SM. Nama ini ditemukan di ukiran Mesir dengan nama “Ba Lam Sin Ta, PLST”. Adapun penambahan Nun “N” kemungkinan untuk menunjukan kata jamak (plural). Mereka bermukim di wilayah-wilayah pesisir dan berasimilasi dengan orang-orang Kan’an dalam waktu yang tidak terlalu lama. Namun orang-orang Kan’an memberikan nama buat tanah wilayah tersebut dengan nama mereka (orang-orang Palestina).

     Mengenai bentuk dan batas-batas wilayah Palestina pada jaman dahulu belum dikenal secara konkrit seperti sekarang, kecuali pada masa penjajahan Inggris atas Palestina tahun 1920-1923 M. Dalam perjalanan sejarahnya, penetapan batas wilayah ini terkadang menyempit dan meluas namun secara umum ada hal yang konstan tentang wilayah ini bahwa ia tetap terletak di antara Laut Tengah, Laut Mati dan Sungai Jordan sebagai bagian dari wilayah negeri Syam.
Sangat sulit menetapkan batas-batas wilayah Palestina secara historis namun akan dibahas sekilas tanda-tanda perkembangan historis terpenting bagi batas-batas ini. 
Pada masa Bizantium sampai pertengahan abad IV Masehi, wilayah Palestina terbagi menjadi tiga daerah administratif, yakni:
1.  Palestina I
     Batas wilayah ini meliputi sebelah utara mulai dari selatan Gunung Karmel dan Padang Ibnu Ameer, sebelah selatan berupa garis yang membentang dari selatan Rafah ke arah timur sampai pertengahan Laut Mati. Perbatasan timur wilayah ini meliputi bagian-bagian timur Yordania, garis perbatasannya melewati selatan Bisan dan membelah Sungai Yordan yang mengelilingi wilayah antara Ajlon untuk sebelah utara dan ujung Laut Mati untuk sebelah tenggara. Yang menjadi jantung Palestina I ketika itu adalah Kota Qasariyah yang meliputi kota Al-Quds, Nablus, Yafa, Gaza dan Asqalan.
2.  Palestina II
      Wilayah ini meliputi pegunungan El-Jalil, Maraj Ibn Ameer dan dataran-dataran tinggi yang membentang ke arah timur dari Danau Thabriyah, yaitu wilayah-wilayah bagian timur Yordania dan Syria (Suriyah) sekarang ini.
3.  Palestina III
      Wilayah ini mencakup daerah-daerah yang terletah di sebelah selatan garis Rafah - Laut Mati, sampai Teluk Aqabah. Wilayah ini berpusat di kota Al-Betraa yang sekarang ini terletak di wilayah bagian timur Yordania.

      Ketika Palestina masuk di bawah pemerintahan Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab Radiyallahu ‘Anhu maka dianggap sebagai bagian dari Negeri Syam. Saat itu negeri Islam dibagi menjadi tujuh wilayah dan Syam adalah salah satu dari ketujuh wilayah tersebut. Pada masa Khulafaur Rasyidin, secara administratif Negeri Syam terbagi menjadi beberapa kota administratif, yakni Kota Administratif Himsh, Damaskus, Palestina dan Yordania.

      Sedang pada masa kekhalifahan Bani Umayah ditambah kota administratif yang kelima, yaitu Kota Administratif Qanisrain. Wilayah kota administratif Palestina membentang dari Rafah yang berbatasan dengan Sinai sampai ke El-Lajun, yakni sebuah kota yang terletak setelah 18 km barat laut kota Jenin. Wilayah administratif Palestina beribukotakan Alladu sampai akhirnya Sulaiman bin Abdul Malik menjadi wali wilayah ini pada masa kekhalifahan saudaranya, Khalifah Alwalid bin Abdul Malik, pada tahun 86-97 Hijriah. Kemudian Sulaiman memerintahkan pembangunan kota Remlah yang kemudian menjadi ibukota wilayah ini.

      Selanjutnya Palestina menjadi wilayah yang terlepas pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, tepatnya setelah masa pemerintahan Abu Abbas al Sifah dengan Remlah tetap menjadi sentral pemerintahan. Setelah berdiri sendiri Palestina terbagi menjadi 12 Kurah (kota), yakni Remlah, Eilia (Al-Quds), Amwas, Alladdu, Yabna, Yafa, Qaisariya, Nablus, Sabastiyan, Asqalan, Gaza, Beit Jabrain serta bergabung ke dalamnya wilayah pinggiran, Zagar, Diyar Qaum, Lud, Syara dan pegunungan hingga Aila di Teluk Aqabah.
Adapun Kota Administratif Yordania, berdasarkan fakta-fakta kontemporer, sekarang ini menjadi bagian wilayah timur Yordania, wilayah utara Palestina dan selatan Lebanon. Ketika itu Yordania merupakan kota anministratif terkecil dari negeri Syam yang berpusat (ibukota) di Thabriya, yang terdiri dari 13 Kurah. Yaitu Thabriya, Samira, Bisan, Fuhl, Jursy, Beit Ras, Jadr, Abil, Susiya, Shafwariya, Aka, Qadas (utara Shafad) dan Shur.

      Pada masa pemerintahan Mamalik (tahun 1250-1517) secara administratif Negeri Syam terbagi menjadi beberapa wilayah perwakilan (niyabah). Wilayah Palestina terdiri dari tiga niyabah, yakni Shafad, Al-Quds dan Gaza. Niyabah Shafad meliputi wilayah dari utara Palestina dan selatan Lebanon sampai ke sungai Lithani. Pada masa kekhalifahan Turki Utsmani di Syam (tahun 1516-1918) negeri ini terbagi menjadi tiga iyalah (distrik), yakni Iyalah Damaskus, Halb dan Tharablus. Setiap iyalah terdiri dari beberapa daerah administratif yang disebut sanajiq. Ketika itu Sanajiq Nablus, Gaza, Al-Quds, Lajun dan Shafad berada dalam iyalah Damaskus. Sanajiq Nablus meliputi bagian-bagian wilayah timur Yordania. Ketika dibentuk iyalah baru Shaida pada tahun 1660, masuk dalam distrik ini wilayah Shafad yang kemudian sentral pemerintahan berpindah  ke Aka pada tahun 1777. Setelah itu turut bergabung dalam Iyalah Shaida kota Al-Quds, Nablus dan Balqa. Dan ketika terbit sistem kewilayahan baru pada tahun 1864 Iyalah Shaida bergabung dalam wilayah (propinsi) Syria/ Suriah. Dan ketika dibentuk wilayah (propinsi) Beirut pada tahun 1887, Aka, Balqa dan tiga kota lainya terpisah dari wilayah Suriah membentuk propinsi-propinsi (wilayah) baru. Wilayah Beirut membentang sampai penghujung jalan antara Nablus dan Al-Quds yang mencakup kota Aka dan Balqa yang berpusat di Nablus yang meliputi pinggiran Jenin, Bani Sha’b, Jamain dan Salth. Saat itu kota Aka mencakup pinggiran Haifa, Nashira, Thabriya dan Shafad. Wilayah-wilayah utara Palestina ini masih tetap menjadi bagian wilayah Beirut sampai  tahun 1914. Sedangkan distrik Al-Quds – melihat dari urgensi dan kekhawatiran Daulah Utsmaniyah dari ketamakan zionis Yahudi serta masuknya campur tangan negara asing dalam urusan Al-Quds – pihak daulah memisahkannya dari Propinsi Suriah dan dinyatakan sebagai wilayah otonomi yang berdiri sendiri dan langsung terikat oleh pemerintah pusat sejak tahun 1874. Wilayah ini meliputi bagian tengah dan selatan Palestina yang diikuti wilayah pinggiran Al-Quds, Yafa, Gaza dan Hebron (Al-Khalil). Pada tahun 1909 dibangun pinggiran Bi’r Sebaa yang sebelumnya merupakan bagian dari pinggiran Gaza. Melihat kuatnya kekuasaan Al-Quds beberapa kali terjadi penggabungan wilayah Nablus (Balqa’) juga pinggiran Nashira selama tahun 1906-1909. Kekuasaan otonomi Al-Quds ini terus berlanjut hingga akhir kekhalifahan Daulah Utsmaniyah.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan:
·         Bahwa penamaan Palestina adalah penamaan sudah ada sejak lama (klasik). Yang secara ghalib meliputi daerah antara Laut Tengah, Laut Mati dan Sungai Yordan.
·         Bahwa Palestina adalah wilayah bagian dari Negeri Syam. Karenanya, pembagian wilayah secara administratif, penamaan wilayah-wilayah, perluasan sebagian wilayah dan penyempitan sebagian yang lain tidak pernah mempengaruhi perasaan penduduk aslinya, mereka adalah bagian tak terpisahkan dari umat Islam yang utuh. Loyalitas mereka kepada pemerintah takkan pernah goyah selama pemerintahnya adalah muslim.
·         Bahwa pembagian wilayah secara administratif tidak lain hanyalah pembagian secara tekhnis belaka, untuk memudahkan kontrol yang dilakukan oleh Daulah Islamiyah dalam rangka mengelola propinsi-propinsi yang ada. Perubahan tersebut tidak memberikan dampak sensitif apapun pada masyarakat umum. Perubahan ini terjadi sebagaimana terjadi pada negeri manapun saat ini; mulai dari perluasan, penyempitan atau penamaan kembali terhadap propinsi-propinsi, distrik dan yang sejenisnya tanpa harus merombak esensi kehidupan manusia. Oleh karenanya hal yang alami apabila wilayah utara Palestina menjadi bagian kota Yordania, juga wilayah-wilayah timur Yordania menjadi bagian Palestina. Wajar pula wilayah-wilayah utara Palestina menjadi bagian wilayah (propinsi) Beirut, atau kota Nablus menjadi pusat propinsi Balqa’, dan seterusnya.
·         Bahwa perasaan dan wawasan sempit dan terkungkung tidak pernah terjadi di antara mayarakat Negeri Syam (dan kaum muslimin secara umum). Bahwa kebebasan untuk berpindah-pindah, bergerak, bermukim, bekerja dan kepemilikan adalah hal yang wajar dan alami yang bisa dilakukan oleh semua masyarakat Negeri Syam tanpa ada perasaan sempit dan terikat.
·         Bahwa pembatasan-pembatasan berdasarkan territorial serta status kebangsaan berdasarkan domisili wilayah sangat jauh dari kehidupan masyarakat muslim sepanjang masa pemerintahan Islam sampai akhir kekhalifahan Daulah Utsmaniyah. Benih-benih kebangsaan dan Nasionalisme sempit tidak pernah tumbuh kecuali setelah jaman penjajahan Barat. Namun sayang sekali hal itu tidak mengakar, kecuali dengan munculnya negara-negara domestik Arab dan negara-nagara Islam yang berdiri sendiri.

      Telah menjadi kebiasaan orang-orang Arab menyebut tanah Palestina dengan nama Syria/ Suriah Selatan. Ini tidak lain karena adanya anggapan bahwa Palestina merupakan bagian dari Suriah (Negeri-Negeri Syam). Pada masa pemerintahan Arab di Damaskus (sejak awal Oktober 1917 sampai Juli 1920), Palestina - meskipun dijajah Inggris - menjadi perwakilan dalam muktamar umum Suriah. Bahkan surat kabar Arab yang pertama kali terbit setelah penjajahan Inggris mengusung nama Suriah Selatan (Suriya al Janubiyah). Kebanyakan tokoh-tokoh Palestina berada di Suriah (Damaskus), diantaranya adalah para wakil dalam muktamar Suriah yang memproklamirkan kemerdekaan Suriah pada tanggal 8 Maret 1920. Nama ini tidak pernah lenyap dari Palestina kecuali setelah pertempuran Meislon, penjajahan Perancis atas Suriah dan jatuhnya pemerintahan Arab di Suriah pada Juli 1920.

      Di bawah kolonialisme Inggris, perbatasan antara Palestina dengan Lebanon di satu pihak dan Lebanon dengan Suriah di pihak lain. Ini berdasarkan perjanjian Inggris dengan Perancis yang diadakan pada 23 Desember 1920, yang kemudian ada beberapa perubahan pada tahun 1922-1923. Adapun perbatasan Palestina dengan wilayah timur Yordania ditetapkan oleh perutusan Palestina dan wilayah timur Yordania pada awal September tahun 1922. Dengan penetapan perbatasan ini, maka luas wilayah Palestina mencapai 27009 km2 yang membentang antara garis 29,300 dan 33,150 Lintang Utara, dan antara garis 34,150 dan 35,400 Bujur Timur. Panjang perbatasan Palestina dengan wilayah timur Yordania mencapai 360 km, dengan Suriah mencapai 70 km, dengan Lebanon mencapai 79 km dan dengan Mesir mencapi 210 km. Sedang pantai Palestina di Laut Tengah panjangnya mencapai 224 m.

     Secara mendasar, dengan memotong garis bujur wilayah Palestina mungkin dapat dibagi menjadi tiga wilayah, yakni wilayah pinggiran pantai, dataran tinggi pegunungan yang menyebar di hampir seluruh wilayah Palestina dan galur Yordania (wilayah dataran rendah Yordania). Wilayah pinggiran Palestina menyempit karena bersebelahan dengan Gunung Karmel di Haifa sampai 200 m dan meluas ke arah selatan mencapai 30 km di wilayah Gaza. Di wilayah inilah terkonsentrasi pemukiman penduduk dan kegiatan ekonomi dalam skala besar. Saat itu sekitar tiga perempat penduduk Palestina terkonsentrasi di wilayah ini, di tambah aktifitas ekonomi di pelabuhan khususnya di Haifa, wilayah-wilayah ini merupakan pusat kegiatan pertanian strategis terutama produksi asam. Adapun dataran tinggi di wilayah tengah Palestina meliputi pegunungan Nablus, Al-Khalil (Hebron) dan perbukitan Nagev yang luasnya mencapai 1000 m. Kemudian Gunul Halhul mencapai 1020 m, Gunung Jurzaim dan ‘Aibal mencapai 940 m. Dan di rangkaian pegunungan El-Jalil di wilayah utara Palestina, di situ ada gunung tertinggi di Palestina, menjulang gunung El-Jurmeq luasnya mencapai 1208 m.
Di wilayah dataran tinggi ini berkembang sejumlah kota-kota penting Palestina seperti Al-Quds (Jerusalem), Nablus, El-Khalil (Hebron), Bethlehem dan Ramallah. Meskipun wilayah-wilayah ini terbuka namun sejak ribuan tahun tetap menjadi markas penduduk yang bercirikan pedesaan. Sebagian besar wilayah tanahnya subur, bagus untuk pertanian. Para petani Palestina memanfaatkannya untuk ditanami kacang-kacangan, sayuran, pertanian zaitun, chrom, perkebunan buah badam dan di tambah lagi padang gembala ternak.
Sedang Bukit Nagev yang luasnya mencapai 10.000 km2 merupakan wilayah padang pasir yang sedikit sekalimemiliki potensi alam, kecuali daerah pinggiran utara. Selebihnya tidak pernah mendapatkan curah hujan kecuali 50 mm atau lebih kecil dari itu. Merupakan wilayah Palestina yang paling sedikit penduduknya.
Adapun wilayah dataran rendah (galur) Yordania luasnya membentang 460 km dari kaki Gunung Syaikh (sebelah utara) sampai Teluk Aqabah (sebelah selatan), membentang sepanjang garis perbatasan Palestina-Yordania, di bagian utara dilewati sungai Yordan kemudian masuk danai Thabriya kemudian keluar dan bermuara di Laut Mati yang kedalamannya kurang dari 395 m di bawah permukaan laut. Laut Mati sendiri luasnya 940 km2, airnya sangat asin bila dibandingkan dengan danau atau laut-laut yang ada di dunia ini. Hal ini mengakibatkan tak ada kehidupan di sana, itulah sebabnya disebut Laut Mati (Dead Sea).
Lembah Yordan dan Laut Mati merupakan wilayah yang paling rendah dari permukaan air laut dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia. Kekhasan wilayah ini adalah panas yang tinggi sepanjang tahun. Penduduknya bertani kurma, pisang dan sayuran. Di wilayah ini terdapat kota tertua dalam sejarah Palestina, yakni Kota Jericho (Ariha), yang sudah berkembang pada tahun 8000 SM. Ke arah selatan dari Laut Mati membentang galur Yordan lebih dari 150 km, yang dinamakan dengan Lembah Arabah. Namun semakin ke arah selatan wilayah ini semakin bertambah tinggi kemudian kembali menurun sampai setinggi permukaan air laut di pantai Teluk Aqabah.


      Iklim yang berlaku di Palestina adalah iklim Laut Tengah secara umum, yakni panas kering di waktu musim panas dan hangat berhujan pada musim dingin (hujan). Curah hujan berkisar antara 600-800 mm pertahun di wilayah dataran tinggi El-Jalil, Nablus dan Khalil (Hebron). Di wilayah pinggiran pantai, semakin ke selatan curah hujan semakin turun, mulai dari wilayah Karmel yang bercurah hujan 800 mm pertahun sampai di Rafah yang bercurah hujan tinggal 150 mm pertahun. Sedangkan di wilayah Lembah Yordan, curah hujan mencapai 200 mm pertahun, di Nagev hanya mencapai 50 mm pertahun.
Sedang tingkat derajat panas secara umum beriklim sedang. Suhu terendah paling dingin terjadi di kota Al-Quds (Jerusalem) pada bulan Januari sekitar 8º dan pada bulan Agustus 25º - merupakan suhu panas tertinggi di Al-Quds. Di wilayah pantai suhu terendah tidak kurang dari 19º dan pada bulan Agustus suhu panas tidak lebih dari 26º. Namun pada situasi paling ekstrim pada musim dingin suhu terendah bisa mencapai 0º terutama di wilayah dataran tinggi pegnungan dan suhu tertinggi pada musim panas bisa mencapai 40º terutama di wilayah Lembah Yordan.



[Sumber: dakwatuna.com]

Thursday, 26 June 2014

BUNGA BANK = RIBA = HARAM!

     Fatwa MUI No. 1 Tahun 2004 tentang bunga bank riba telah dikeluarkan. Sebelum adanya fatwa ini keharaman bunga bank memang masih banyak diperdebatkan, organisasi masa Islam yang besar-besar pun saat itu belum menyatakan bahwa bunga bank adalah riba. Tetapi setelah adanya fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Insonesia yang mewakili seluruh elemen penting umat Islam negeri ini maka seharusnya sudah tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengikuti fatwa para ulama ini dengan mencari solusinya. Karena isi dari fatwa tersebut di atas tidak hanya terbatas pada produk-produk perbankan tetapi juga menyangkut seluruh produk-produk institusi keuangan lainnya, lantas bagaimana para eksekutif dan karyawan perbankan serta industri keuangan lainnya merespon fatwa ini?
      Secara umum terdapat empat kelompok yang merespon fatwa tersebut secara berbeda:
Kelompok pertama adalah kelompok yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang adanya fatwa tersebut. Bagi kelompok ini, ada atau tidak adanya fatwa riba ini tidak berpengaruh sama sekali terhadap pekerjaannya hingga kini.
Kelompok kedua adalah kelompok yang tahu ada fatwa ini tetapi mereka merasa lebih tahu tentang haram tidaknya bunga bank, maka bagi kelompok yang kedua ini fatwa tersebut juga tidak berpengaruh pada pekerjaannya.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang menerima fatwa tersebut dan berusaha mentaatinya, hanya saja tidak atau belum tahu harus bagaimana – bisa dikatakan galau dalam bahasa gaulnya.
Kelompok keempat adalah kelompok yang menerima fatwa tersebut dan mulai membuat rencana-rencana bagaimana menjauhi riba dalam kehidupan modern yang bentuk-bentuk ribanya sudah sangat sophisticated ini.
Pembaca termasuk dalam kelompok yang mana?
Bagi kelompok ketiga dan keempat silahkan simak postingan ini, semoga bermanfaat.

    Sampai sekarang riba telah mengepung kehidupan kita sehari-hari, bukan hanya mengepung para eksekutif dan pekerja di perbankan dan industri keuangan lainnya, namun juga mengepung seluruh masyarakat pekerja. Kepungan riba atau yang disebut sebagai lingkaran riba ini dapat dilihat pada ilustrasi dibawah ini. 
 
Lingkaran merah adalah ribanya, sedangkan garis-garis putih adalah celah-celah dimana kita bisa berusaha keluar dari lingkaran riba ini. Kita bisa lihat bahwa celahnya begitu kecil, untuk menunjukkan betapa susahnya keluar dari lingkaran riba itu sekarang. Melihat betapa sulitnya kita keluar dari lingkaran riba maka bisa jadi jaman ini adalah jaman yang sudah dikabarkan oleh Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melalui haditsnya,
Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya.”
(HR. Ibnu Majah, HR. Sunan Abu Dawud, HR. Al-Nasa’i dari Abu Hurairah)

     Untuk menggambarkan betapa riba tersebut telah mengepung kita, berikut ini contoh gambaran situasinya:
Jika kita sebagai pekerja di perusahaan atau instansi apapun, kini hampir dapat dipastikan perusahaan atau instansi menaruh sebagian besar dananya di Bank Konvensional dalam bentuk rekening koran, deposito dan sebagainya. Bunga kemudian mengalir ke rekening tersebut dan kemudian sampai ke gaji kita, tunjangan, bonus dan sebagainya.
Selain gaji, sebagai karyawan kita juga memperoleh jaminan kesehatan, dana pensiun, jaminan perlindungan kecelakaan kerja dan sebagainya. Dimana dana-dana ini dikelola mayoritasnya oleh industri keuangan konvensional.
Darimana kita bisa tahu bahwa sebagian besar perusahaan atau instansi menggunakan bank dan industri keuangan konvensional untuk menaruh atau mengelola uangnya? Kita bisa tahu dari pangsa pasar bank dan industri keuangan syariah yang masih sangat kecil dibandingkan dengan yang konvensional, artinya mayoritas perusahaan dan instansi masih menggunakan yang konvensional ketimbang yang syariah.
Terlepas dari adanya kritik sebagian masyarakat yang menyatakan bahwa bank dan industri keuangan syariahpun belum sepenuhnya syar’i, saya tetap menyarankan penggunaan yang sudah berusaha menuju yang syar’i ini ketimbang yang terang-terangan tidak menghiraukan fatwa riba ini. Syukur-syukur ada yang sepenuhnya sudah syar’i.
 
      Bagi bank konvensional yang infrastruktur teknologi dan layanannya sudah jauh lebih unggul yang dalam realitasnya sudah banyak memberi manfaat untuk kepentingan transfer dana dan sebagainya, bisa saja bank-bank seperti ini tetap digunakan tetapi produk-produk ribawinya harus dihilangkan. Rekening koran misalnya, tidak usah diberi bunga tetapi gantinya diberikan dalam bentuk layanan yang sebaik-baiknya, karena masyarakat yang sadar keharaman bunga bank tidak akan mementingkan – atau bahkan menjauhi – bunga tetapi membutuhkan layanan yang baik. Produk semacam deposito misalnya, tidak perlu lagi digunakan karena kalau ada kelebihan dana,bisa diputar di bisnis yang riil Insya ALLAAH akan lebih baik daripada sekedar ditaruh di deposito.

   Untuk produk-produk asuransi, dana pensiun, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan sebagainya seharusnya ada perlindungan konsumen muslim secara maksimal, jangan sampai pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak ini dipenuhi atau dikelola secara ribawi. Bayangkan misalnya ada keluarga kita jatuh sakit, tetapi kemudian dirawat oleh perusahaan dengan jaminan asuransi yang dikelola secara ribawi, do’a orang sakit yang seharusnya terkabulkan menjadi tidak terkabulkan karena pengaruh riba yang bisa jadi tidak kita sadari.
Begitu pula ketika kita telah memasuki masa pensiun tanpa kita sadari dana pensiun yang kita gunakan sebagian berasal dari riba yang terbawa oleh pengelolaan dana pensiun yang juga belum menghiraukan fatwa riba tersebut.

     Solusi bank syariah, asuransi syariah, dana pensiun syariah, dan sejenisnya dapat terus diupayakan dan disempurnakan untuk menjadi solusi yang benar-benar syar’i, bukan hanya sekedar ikut-ikut trend atau mencari keuntungan saja. Namun sesungguhnya solusi syar’i yang paling luas aplikasinya dan sesuai tuntunan yang sebenarnya adalah menggalakkan perdagangan (jual beli) dan sedekah. Di dalam Al-Quran telah ditegaskan bahwa lawan dari riba adalah jual beli dan sedekah, maka inilah yang seharusnya digalakkan di masyarakat dan diajarkan sejak anak-anak. Anak-anak lebih baik diajari berdagang dan bersedekah ketimbang diajari menabung.
Namun sayangnya jual belipun mudah sekali terjatuh pada riba bila tidak mengikuti ketentuan syariat jual beli. Itulah mengapa Umar bin Khattab ketika menjadi Muhtasib (pengawas pasar) sering mengingatkan masyarakatnya untuk tidak berjualan di pasarnya bila tidak memahami syariah jual beli.
Salah satu dari upaya nyata untuk menumbuhkan keahlian dan kesempatan bagi masyarakat untuk bisa berjual beli secara syar’i ini bisa dengan mendirikan dan melestarikan institut-institut atau kajian-kajian tentang masalah ini. Jika yang riba saja ada institut-institut resminya, dan meraja lela, lalu kenapa kita tidak membangun kekuatan untuk melawannya?!







“… ALLAAH telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”
(QS. Al-Baqoroh [2] : 275)

“ALLAAH memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…”
(QS Al-Baqoroh [2] : 276)


Saturday, 14 June 2014

APRIL MOP (APRIL FOOLS DAY)




      Setiap tanggal 1 April masih ada saja orang yang merayakan hari tersebut dengan membuat keisengan ataupun kejutan.

April Fools Day, demikian orang Barat menyebut hari pada tanggal 1 April atau lebih popular disebut sebagai April Mop. Namun tahukah Anda jika perayaan tersebut sebenarnya berasal dari sejarah pembantaian tentara Salib terhadap Muslim Spanyol (yang memang didahului dengan upaya penipuan)?

Rasulullaah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap ‘Ilmu qabla amal (berarti ilmu sebelum mengamalkan). Umat Muhammad SAW wajib mengetahui duduk perkara suatu hal secara benar sebelum mengerjakannya. Sayyid Quthb juga mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup sama dengan orang-orang jahiliyah. Jangan sampai kita menjadi golongan mereka terhadap kejahiliyahan.
Berikut ini adalah sejarah April Mop (April Fools Day), mari kita simak bersama-sama.

SEJARAH APRIL MOP

     Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sebenarnya berawal dari satu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M atau bertepatan dengan 892 H. Sebelum sampai pada tragedi tersebut mari kita tengok dulu sejarah Spanyol ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

    Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dapat dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, dan Tours jatuh. Meskipun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

    Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati maka banyak warga Spanyol yang kemudian dengan sukarela memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam namun mereka benar-benar mempraktekkan kehidupan secara Islami, mereka tidak hanya membaca Al-Qur'an tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur'an, mereka selalu berkata tidak untuk segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

    Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol beberapa kali berupaya membersihkan Islam dari Spanyol namun mereka selalu tidak berhasil. Lalu dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol yaitu dengan melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.

Mulailah serangan pertama. Secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari dari pada membaca Al-Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai tetapi juga penduduk sipil, para perempuan, anak-anak dan orang-orang tua sekalipun, semuanya dihabisi dengan sadis.

    Satu persatu daerah di Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. “Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol, setelah ini maka kami tidak lagi memberikan jaminan!” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa dari orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut.

     Keesokan harinya ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumahnya dengan membawa seluruh barang-barang keperluannya beriringan jalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tentara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumahnya.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.
Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anaknya yang masih kecil. Sedangkan tentara Salib itu telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Jerit tangis pecah dan takbir membahana. Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, dengan buas ribuan tentara Salib segera membantai umat Islam Spanyol, warga sipil yang tidak berdaya tanpa perasaan belas kasihan.

Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam, darah menggenang di mana-mana. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen sebagai April Mop (The Aprils Fool Day).

Bagi umat Islam April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Karenanya sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sebab dengan turut merayakan April Mop maka sama saja dengan merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, beberapa abad silam.

 Wallahu a’lam...



[Referensi: Rizki Ridyasmara dalam  “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Pustaka Alkautsar, 2005),
eramuslim.com]



“Mereka berusaha hendak memadamkan nur (cahaya)  ALLAAH  dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi ALLAAH (justru) menyempurnakan  nur-hidayah NYA (agama Islam) walau orang-orang kafir membencinya".
(QS. As-Shaff: 8)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.
(QS. Al-Israa’: 36)

 “Orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah.”
(Sayyid Quthb)