| Home | Book-Literature | Inspiring-Religion | Economy-Business | Social-Cultural-Languange | Politics-Conspiracy | Health-Sport | Music-Movie | Femininity-Parenting |
Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Tuesday, 3 June 2014

BELAJAR DARI CATUR


      Kebanyakan orang mungkin menganggap permainan catur sangat membosankan. Sebab sepanjang permainan pemainnya hanya diam, asik dengan pikirannya masing-masing dan tidak ada body contact. Selain itu tidak ada suporter seperti yang kita temui pada olahraga atau permainan lain. Jangan harap anda akan menemui cheerleader ataupun umbrella girl pada pertandingan catur. Genderang atau terompet penyemangat pertandingan pun tidak pernah ada. Namun beda halnya dengan pendapat para atlet/ pemain dan penggemar olahraga fisik dan fikiran ini. Mereka akan beranggapan bahwa permainan Catur adalah latihan sekaligus hiburan yang sangat mengasyikan. Meskipun tanpa pendukung yang menyemangati ataupun tanpa penonton sekalipun, mereka bisa bertahan sampai berjam-jam. Benar-benar permainan yang sangat menarik bukan?! 


      Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai menarik dan manfaat bermain catur. Kali ini saya akan mengajak pembaca untuk belajar dari permainan catur. Apa saja sih yang bisa kita pelajari dari permainan yang dulunya hanya diperuntukkan bagi kalangan kerajaan dan bangsawan ni? Yuk mari sama-sama kita pelajari filosofi yang terkandung di dalam permainan catur.

     Dalam catur sudah diatur bagaimana pergerakan bidak-bidaknya. Misalnya Pion hanya bisa bergerak maju (langkah pertama boleh 2 petak, setelahnya hanya boleh 1 petak), Menteri/ Peluncur bergerak miring, Kuda hanya dapat bergerak menyerupai huruf/ Letter “L”, Benteng bisa 4 arah tapi tidak bisa miring, Ster/ Patih bisa bergerak ke arah mana saja dan tidak ada batasan langkah, sedangkan Raja/ Ratu bisa bergerak segala arah namun hanya 1 petak setiap langkah. Pelajaran yang bisa kita ambil yaitu dalam kehidupan setiap orang mempunyai peran dan cara hidup masing-masing yang terikat dalam aturan-aturan, baik yang dibuat oleh ALLAAH maupun manusia sendiri. Jadi lebih baik kita mengikuti aturan dan memahami apa peran yang sedang kita mainkan serta mengetahui apa yang seharusnya kita kerjakan.

    Sebelum memulai permainan catur kita telah menentukan apakah kita akan bermain menyerang atau bertahan. Namun terkadang di tengah pertandingan/ permainan ada kalanya kita mengubah cara bermain kita karena adanya perubahan situasi dan posisi permainan. Tetapi tujuan tidak pernah berubah yaitu tetap mempertahankan raja/ ratu kita agar tidak mati atau minimal bisa remis/ seri. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa sejak awal kita harus fokus pada tujuan yang telah kita tetapkan dan bagaimana cara meraihnya. Jika ada perubahan situasi dan kondisi dalam kehidupan kita, maka yang perlu kita sesuaikan adalah caranya bukan tujuannya. Tujuan bisa kita ubah jika memang tidak ada cara lain lagi untuk meraihnya.

     Dalam catur setiap langkah yang kita buat harus difikirkan benar-benar dan harus selalu mengandung tujuan yang jelas tanpa mengabaikan posisi sendiri maupun lawan. Singkat kata, tanpa perhitungan yang matang dan tujuan yang jelas maka langkah yang kita buat akan menjadi sia-sia bahkan bisa menjadi blunder yang berujung pada kekalahan. Begitupun dalam kehidupan kita perlu memperhitungkan setiap langkah kita dengan tujuan yang jelas tanpa melupakan kondisi sendiri dan keadaan sekitar agar bisa berakhir dengan keberhasilan dan kebahagiaan.

    Dalam catur kita tidak boleh lengah dan meremehkan lawan. Meski secara kuantitas jumlah bidak kita lebih banyak dan posisi sudah akan memenangkan permainan tetapi jika kita ceroboh dan tidak fokus maka kesalahan dan kecerobohan akan bisa dimanfaatkan lawan untuk mengambil alih atau mengubah jalannya permainan. Tentu lawan akan berpikir lebih keras jika posisinya terdesak dan berusaha melepaskan diri dari kesulitannya sehingga jika kita tidak fokus dan bertindak ceroboh maka kemenangan yang sudah hampir di tangan akan hilang begitu saja. Bagaimanapun kita tidak boleh bertindak ceroboh dan seenaknya sebelum tujuan benar-benar tercapai. Tetap fokus setiap saat dan jangan biarkan situasi/ kondisi di sekeliling kita mengubah track yang sudah kita bangun susah-susah dalam meraih tujuan. Kemampuan – baik dalam bentuk bakat, keahlian, ketrampilan, kepandaian dan materi – serta kesempatan – baik dalam bentuk waktu, dukungan maupun kesiapan – dapat mempermudah dalam meraih tujuan hidup namun jika kita tidak bijaksana dan salah menggunakan kemampuan serta kesempatan yang kita miliki tersebut maka hanya kehancuran yang akan kita dapat.

      The last but not the least...
Pion terkadang hanya dipandang sebelah mata dan sering diremehkan perannya dalam permainan catur, tapi pada saatnya pion bisa berubah dan menjadi apa saja jika berhasil melangkah di batas akhir pertahanan lawan. So, jangan pernah meremehkan orang lain.

    Tulisan ini di dapat dari blog SCBA Malang dengan berbagai perubahan dari penulis. Semoga bermanfaat. :)



[Sumber: duniacatur-duniaanakcerdas.blogspot.com]


Saturday, 11 January 2014

BELAJAR UNTUK LULUS ATAU BELAJAR UNTUK KEHIDUPAN?



     Sejak kecil kita dididik untuk mau belajar. Semakin rajin mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah), rajin belajar dan mendapat nilai yang bagus saat ulangan, maka kita dinilai 'bagus'. Namun seringkali kita lupa pada hakekat 'belajar' itu sendiri.
Itulah yang dirasakan oleh Erica. Sebuah video pidato dari Erica Goldson di Youtube menjadi begitu fenomenal. Ini semacam 'pidato pengakuan' yang dilakukan siswi terbaik di sekolahnya itu. Dalam pidatonya yang seharusnya menjadi momen membanggakan itu, Erica mengakui bahwa dirinya takut. Mengapa?

     Erica memang adalah siswi terpandai di sekolahnya, ia memang selalu mendapatkan nilai terbaik dan seharusnya bisa bangga dengan dirinya saat mengucapkan pidato tersebut. Namun setelah direnungkan, ia mengakui bahwa dirinya tidaklah lebih pintar dari teman-temannya. Selama ini Erica hanya menjalankan apa yang diperintahkan padanya, PR, ulangan dan aturan sekolah. Ia hanya mengikuti aturan tersebut begitu saja agar ia terhindar dari hukuman, tidak lulus dan formalitas lainnya. Kenyataan ini mungkin menunjukkan betapa rajin dan tertibnya Erica. Setelah ini ia akan lulus, mendapatkan ijazah dan siap bekerja.

    Namun Erica adalah seorang manusia yang berpikir dan mencari pengalaman hidup, bukan pekerja. Menurutnya pekerja adalah orang yang terjebak dalam rutinitas dan sistem yang mengatur serta membatasi mereka.
"Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat", ujar Erica.
Semua rutinitas pendidikan formal yang ia jalani membuatnya terbiasa untuk tekun namun tidak terbiasa untuk menyadari 'pelajaran' yang sebenarnya. Hal inilah yang membuatnya takut untuk melangkah setelah kelulusan tiba.

     Dalam pidatonya, ia nampak menyesali karena semasa sekolah ia seperti tidak 'hidup'. Saat temannya lupa mengerjakan PR karena sibuk mengerjakan hobi mereka, Erica memang sudah siap dengan PR yang tuntas dikerjakan. Saat teman-temannya membuat lirik lagu, Erica memang sudah memiliki catatan pelajaran atau bahkan mengambil ekstra SKS. Karena sibuk belajar, Erica tak sempat memikirkan hobi dan hal apa yang diinginkannya. Ia pun belajar hanya demi lulus, bukan sebenar-benarnya belajar untuk mempersiapkan hidup di masa depan. Hal inilah yang menjadi pengakuan terpendam Erica, betapa rutinitas sekolah ternyata membuatnya kini terhenyak bahwa ia hanya belajar untuk lulus.

     Pidato Erica tsb memberikan pelajaran bagi kita yang belajar, kita yang akan membelajari dan kita yang akan memiliki anak-anak nantinya. Semua orang memang butuh berprestasi, butuh bekal teori namun jangan lupa untuk memenuhi bekal hidup! Masa muda adalah masa yang baik untuk memiliki impian, memiliki apa yang Anda inginkan dan berusaha mewujudkannya. Jangan terjebak dalam rutinitas sekolah yang memenjarakan namun imbangi dengan kehidupan sosial dan kehidupan untuk Anda sendiri!

    Jika hal ini sudah terlanjur terjadi pada anda maka jangan sampai terulang pada anak-anak anda nantinya.


[Sumber: vemale.com]