| Home | Book-Literature | Inspiring-Religion | Economy-Business | Social-Cultural-Languange | Politics-Conspiracy | Health-Sport | Music-Movie | Femininity-Parenting |
Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Seminar Nasional LGBT di UIN Malang Dibubarkan



Ada yang perlu digarisbawahi bahwa SSA (Same Sex Attraction) dengan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender) adalah suatu hal yang berbeda. Sayangnya terkadang kebanyakan orang menyamakannya dan kemudian menyimpulkan sesuatu tanpa diketahui kebenarannya. Banyak istilah yang ternyata rancu di masyarakat karena kurang pahamnya kita dengan istilah-istilah tersebut. Selain karena kita kurang kesadaran untuk mencari tahu juga karena ketidaksukaan kita terhadap sesuatu membuat kita menutup mata atas kenyataan yang ada dan bisa jadi membuat kita tidak dapat melihat kebenaran yang sebenarnya.

Beberapa orang mencoba untuk memberikan pencerahan, membagi ilmu dan pengetahuan mereka tentang SSA dan LGBT serta dengan tulus membantu orang-orang yang SSA namun tidak ingin tergabung dalam LGBT. Usaha mereka tidak hanya reaktif namun juga proaktif serta prefentif. Mereka adalah Sinyo Egie, seorang penulis, konselor dan founder Lembaga Konseling Peduli Sahabat. Juga pengurus Peduli Sahabat. Mereka mengadakan acara Seminar Nasional LGBT “Kenali, Pahami, Hadapi Bersama”. Acara ini merupakan hasil kerjasama DEMA-F Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan LSOK-LISFA Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Speaker adalah Sinyo, Zainul Anwar, M PSi. (Psikolog Klinis), Ilhamnu’din Nu’man, M Si. (praktisi psikologi Islam), dan bertindak sebagai moderator adalah Galuh Andina, M Psi. (psikolog sekaligus pengurus Peduli Sahabat) . Rencana acara diadakan tanggal 7 November 2015 di rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lantai 5 namun karena peserta mencapai 600 orang maka acara terpaksa dipindahkan ke gedung Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Batu.

Awalnya acara berjalan lancar meski ada beberapa peralatan yang saya rasa kurang mendukung. Sampai pada penyampaian materi oleh Sinyo yang seharusnya diletakkan di akhir, namun kemudian dipersilahkan mengawali untuk menghindari dugaan ormas-ormas yang mengira ini adalah acara dari aktivis kelompok LGBT. Dengan waktu yang sangat terbatas Sinyo berusaha untuk menyampaikan bagaimana awal beliau mengenal dunia LGBT dan kesulitannya dalam menghadapi prasangka buruk orang-orang dalam membantu para SSA yang tidak ingin menjadi LGBT dan usaha prefentif agar anak-anak tidak sampai menjadi SSA. Beliau melakukannya dengan menulis buku dan mendirikan organisasi non profit bernama Peduli Sahabat dan Menanti Mentari.

Namun belum selesai Sinyo menyampaikan seluruh materinya dan sesi berikutnya dilanjutkan, yaitu materi dari speaker lain yaitu psikolog. Acara dihentikan sejenak dengan adanya pengumuman dari panitia. Ternyata ada Ormas NU (Nahdhatul Ulama), GP Anshor yang kemudian memberikan komentar akan adanya acara ini dan mengaitkan dengan acara pro LGBT yang sebelumnya akan diadakan di FISIP UB dan hotel Swiss Bellin namun kemudian berhasil mereka gagalkan. Mereka mengatakan jika timing acara ini kurang tepat. Mereka tidak berniat membubarkan acara seminar ini – katanya. Mereka mengatakan jika visi dan misi mereka sama dengan panitia/ penyelenggara acara ini. Mereka mengajak peserta untuk ikut menolak kegiatan pro LGBT di Malang Raya. Mereka menginginkan adanya konsensus bahwa kegiatan seminar ini tidak akan mengarah pada usaha mendukung LGBT. Mengingat kelompok LGBT telah mendapat pencapaian dalam usaha pelegalan pernikahan sesama jenis. Tentu saja para peserta dan panitia menyetujui karena memang tujuan acara ini bukan untuk memberi dukungan kepada kelompok LGBT apalagi mendukung pelegalan pernikahan sesama jenis. Setelah dua orang wakil Ormas NU menyampaikan pandangan/ pendapat mereka kemudian mereka mempersilahkan panitia dan peserta melanjutkan acara seminar ini. Kemudian dari pihak UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga menyampaikan jika sebelumnya ada keberatan akan diadakannya acara ini. Namun acara ini tetap dilanjutkan dan mengundang ormas dan pihak yang keberatan dengan acara ini. Asumsi kami sebagai peserta mediasi telah dilakukan dan acara akan tetap diselenggarakan.

Kemudian panitia/ MC mengambil alih acara dan mempersilahkan untuk mengisi acara dengan game sebentar untuk sekedar refreshing katanya – atau dengan maksud mengurangi ketegangan. Baru beberapa menit peserta mengikuti intruksi yang diberikan untuk sekedar berdiri dan bermain, tiba-tiba acara sekali lagi dihentikan. Kemudian perwakilan panitia mengatakan bahwa mereka sudah berusaha keras untuk menyelenggarakan acara ini namun ternyata acara ini tidak bisa diteruskan. Peserta diminta untuk meninggalkan ruangan. Saya kurang tahu yang membubarkan acara ini apakah ormas yang sebelumnya telah sepakat untuk mempersilahkan dilanjutkannya acara ataukah pihak kampus UIN Malik Maulana Ibrahim, pihak kepolisian, atau pihak lain. Saya yakin peserta dan panitia kecewa dengan kejadian ini. Saya secara pribadi sangat kecewa.

Untuk mengurangi kekecewaan dan tetap berfokus pada usaha berbagi pengetahuan maka saya akan mengulas sedikit materi yang disampaikan Sinyo dan untuk medukung akan saya lengkapi dengan penjelasan yang saya dapat dari buku parenting beliau berjudul “Anakku Bertanya tentang LGBT”. Saya tidak dapat memberikan penjelasan lengkap pada seluruh materi karena belum semua disampaikan dan dibahas oleh pembicara karena keterbatasan waktu.           

Semoga postingan saya kali ini dapat memberikan gambaran kronologis kejadian pembubaran acara Seminar Nasional LGBT dan sedikit menjadi pengobat kehausan ilmu para pembaca blog saya.

Berikut ini beberapa istilah yang perlu kita pahami terlebih dahulu.
1. SSA (Same Sex Attraction)
Istilah ini digunakan untuk memaparkan bahwa seseorang mempunyai rasa ketertarikan seksual dengan sesama jenis (gender sejenis). Hal ini sebatas ketertarikan, akan berbeda dengan identitas seksual LGBT.
2. Homosexual
Homoseksual adalah identitas seksual selain heteroseksual dan biseksual. Di kebanyakan negara istilah homoseksual digunakan untuk menggambarkan dan menekankan pada tindakan hubungan seksual sesama jenis, baik didasari pada SSA ataupun tidak.
3. Gay dan Lesbian
Berbeda dengan SSA, gay dan lesbian mewakili identitas seksual. Jika anda tertarik dengan sesama jenis (SSA), anda belum dapat dikatakan sebagai gay sampai dapat menerima orientasi seksual tersebut dengan senang hati tanpa perlawanan sedikitpun atau tidak ada kegundahan ingin menjalani hidup seperti heteroseksual. Sebutan gay berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, sedangkan istilah lesbian hanya digunakan untuk perempuan.
4. Bisexual
Istilah ini digunakan untuk menyebut identitas seksual dan atau orang yang mempunyai ketertarikan seksual kepada sesama jenis dan lain jenis.
5. Transexual dan Transgender
Transexual adalah sebutan untuk orang yang ingin merubah kebiasaan hidup dan orientasi seksualnya secara biologis, berlawanan dengan yang dimiikinya sejak lahir. Sedangkan transgender adalah istilah untuk menunjukkan keinginan tampil berlawana dengan jenis kelamin yang dimiliki.
6. Intersexual
Istilah ini digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang secara biologis tidak dapat diklasifikasikan sebagai laki-laki maupun perempuan karena memiliki karakteristik keduanya.
7. Asexual
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak memiliki ketertarikan seksual (sex orientation) kepada siapapun atau apapun.
8. LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, & Transgender)
Saat ini istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan seseorang atau kelompok yang memilih identitas seksual selain heteroseksual. Saya katakan memilih karena individulah yang memutuskan dia akan hidup sebagai LGBT atau straight. Meski seseorang mempunyai SSA belum tentu dia akan memilih jalan sebagai LGBT.
9. Straight (Heterosexual)
Istilah ini digunakan untuk menyebut identitas seksual maupun orientasi seksual terhadap lawan jenis, atau lawan dari homosexual.
10. Homophobia
Istilah ini digunakan untuk menyebut tindakan atau orang yang anti-komunitas gay.

PENYEBAB, INDIKASI DAN ANTISIPASI
Menurut Sinyo penyebab dari munculnya SSA (Same Sex Attraction) pada seseorang berawal saat usia di bawah lima tahun (Balita). Menurut beliau usia tersebut adalah titik awal berbelok (pembentukan sudut pandang). Lalu apa saja yang dapat menjadi penyebab SSA, berikut diantaranya:
1. Anak butuh perlindungan (ketidaknyamanan) - salah model dikarenakan situasi atau kondisi yang memaksanya (terpaksa), hal ini dapat disebabkan antara lain karena:
a. Keluarga yang kurang harmonis atau broken home
b. Pola asuh atau mendidik anak dari bapak atau ibu yang otoriter (terlalu keras)
c. Dominasi ibu atau bapak
2. Anak yang terlalu dilindungi (over protected), hal ini dapat terjadi pada:
a. Anak bungsu (terakhir)
b. Anak tunggal
c. Anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda
d. Anak yang dianggap istimewa; bisa karena kepandaiannya, ketampanan/ kecantikannya.
3. Anak yang bebas (liar) – tidak adanya role model, hal ini dapat terjadi pada:
a. Anak sulung (yatim dan/ atau piatu)
b. Anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda
c. Anak dari keluarga yang sangat demokratis dibebaskan mengambil role model
d. Anak dari orang tua yang sibuk bekerja atau jarang berada di rumah (kurang kebersamaan)
 
Selanjutnya menurut Sinyo ada fase penguatan biasanya terjadi di umur enam sampai dengan sepuluh tahun:
1. Penguatan akibat trauma (luka jiwa), misalnya:
a. Kekerasan seksual (bagian dari pelecehan seksual)
b. Adegan kekerasan orang yang dicintai
2. Penguatan terhadap definisi – karakter:
a. Bully (penampilan, style, dan lain-lain)
b. Pola asuh (dandan, dan lain-lain)
c. Pilihan kesukaan (favorit film, karakter, dan lain-lain)

Umur 11 sampai dengan 14 tahun merupakan fase dimana anak mengalami kebingungan dan sekligus menjadi penguatan:
1. Seks pertama kali (keinginan/ mencari tahu) dari
a. Bacaan
b. Film
c. Dalam kehidupan nyata (termasuk kekerasan seksual)
2. Pemilihan kegiatan (mencoba mengatasi) antara lain:
a. Sepak bola
b. Pramuka
c. Membaca, menulis, puisi
d. Menari atau menyanyi (atau bidang kesenian lain)

Kemudian di usia 15 tahun ke atas merupakan fase pengkristalan
1. Self hypnosis (semakin jauh menyeret)
a. Bacaan (media, buku agama, dan lain-lain)
b. Ustadz (larangan, ketakutan, dan lain-lain)
c. Kelompok LGBT
2. Bergabung kelompok LGBT
3. Menyendiri (negatif)



“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena ALLAAH, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada ALLAAH, sesungguhnya ALLAAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(TQS. Al-Maidaah: 8)



 “Sesungguhnya ALLAAH menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya ALLAAH memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya ALLAAH adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(TQS. An-Nisaa’: 58)



“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

 (TQS. Al-Hujaraat: 6)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya ALLAAH akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya ALLAAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(TQS. Al-Mujadilah: 11)

Tuesday, 20 January 2015

DUA WAJAH REMBULAN



     Buku ini telah menambah pengetahuan kita tentang dunia SSA (Same Sex Attraction) dan atau LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transexual) – termasuk juga Transgender, Interseksual dan Aseksual; yang bagi kebanyakan orang masih tabu untuk dibahas/ dibicarakan. Keunggulan dari buku ini adalah penulis (Sinyo) tidak berusaha memposisikan diri pada salah satu kubu yang banyak disebut/ ditetapkan orang dengan kelompok/ individu yang “pro” maupun “kontra” LGBT, karena mungkin memang bukan itu tujuannya. Menurut saya, tujuannya tentu saja mengedukasi pembaca terutama masyarakat awam tentang dunia SSA dan atau LGBT serta memberikan “alternatif pilihan” - untuk tidak saya katakan sebagai ajakan - bagi yang sudah “memilih” – untuk tidak saya katakan terjerumus – dalam dunia LGBT ataupun yang mempunyai orientasi SSA untuk “kembali” ke fitrah manusia (jalan lurus Islam bagi yang beragama Islam - dan sesuai agama yang dianut masing-masing - dimana menurut kesepakatan sebagian besar ulama dan tokoh agama dengan sumber kitab suci dan sabda Rasul serta menurut ilmuwan mengatakan bahwa fitrah manusia adalah heteroseksual, meskipun tidak menutup kemungkinan muncul ketertarikan terhadap sesama jenis). Memandang orientasi tersebut sebagai ujian adalah pandangan dan cara bersikap yang bijak. Lewat buku ini penulis mengingatkan dan mengajak kita untuk tidak serta merta menghakimi individu atau kelompok yang mempunyai orientasi selain heteroseksual, apakah itu SSA, dan kondisi lain, sebagai seorang “pendosa”. Penulis secara obyektif memberikan gambaran pandangan dari kedua kubu serta asal-usul dan sejarah tentang perilaku homoseksual dari berbagai sumber, bukti dan dasar.

    Namun masih ada beberapa kekurangan yaitu beberapa ejaan, bahasa, urutan, sumber dan menurut saya isinya yang terlalu/ lebih banyak teoritisnya (sejarah, pandangan, dsb) sedangkan isu utama terkait penelitian yang diambil yang menurut saya kurang, misal kisah nyata, fakta dan alternatif solusi. Jadi lebih pada proporsi isinya yang kurang seimbang, mungkin karena memang narasumber terlalu sedikit? Atau karena memang sifatnya eksposisi tidak seperti buku berikutnya “Anakku Bertanya tentang LGBT” (ABtL) yang mungkin lebih preventif, solutif dan aplikatif? Maaf saya belum selesai membaca buku yang terbaru ini. :)


    Mungkin ada yang bilang bahwa dunia hanya ada dua warna kubu/ blok, “hitam” dan “putih”, namun kenyataannya tidak seperti itu, diantara keduanya ada yang mengambil posisi di “tengah-tengah” (netral atau nonblok) dan sebut saja “abu-abu”. Begitupun dalam menyikapi individu atau kelompok dengan orientasi SSA dan atau perilaku LGBT, bahkan yang Interseks dan Aseksual sekalipun; tidak hanya ada yang Pro yang memperjuangkan hak-hak mereka, membela mereka, mendukung mereka, namun ada pula yang Kontra yang oleh lain pihak disebut Homophobia karena dianggap tidak mau mengerti, hanya bisa mencaci, menghina, menjauhi dan menyalahkan bahkan mungkin melakukan kekerasan baik secara fisik maupun psikis (verbal ataupun nonverbal). Diantara keduanya ada pihak ketiga yang tidak pernah dibahas atau muncul di permukaan. Dimana pihak ini menyadari dan mengakui individu dengan orientasi SSA dan atau LGBT, Interseks, Aseksual, serta kondisi lain memang ada di masyarakat dan mereka tidak menyalahkan, menghakimi, menjauhi, menghina dan mengutuk namun justru mencoba memahami sekaligus membantu individu dengan orientasi SSA dan kondisi Interseks maupun Aseksual untuk tidak serta merta memilih menjadi LGBT (Pro LGBT) dan atau tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri serta keluarga dan orang-orang tersayang/ terdekat (menyakiti diri sendiri misalnya atau menyakiti orang lain) dan dengan membabi buta menyerang Kontra LGBT.

     Karena budaya ketimuran yang masih sangat melekat di negeri kita - Indonesia, dan pengetahuan serta kebijaksanaan/ kedewasaan dan toleransi atau kepekaan/ kepedulian masyarakatnya yang kurang menyebabkan individu yang mempunyai SSA menjadi takut, malu, benci, bingung, terhadap kondisi dirinya dan tanggapan orang-orang di sekitarnya. Mereka tentu bingung harus bicara dan konsultasi ke mana/ ke siapa, sedangkan satu-satunya yang peduli terhadap mereka dan bisa menerima mereka adalah yang Pro LGBT (aktivis dan komunitas LGBT). Wajar jika semakin banyak jumlah mereka. Jika saja ada individu, kelompok, komunitas formal maupun non formal yang “abu-abu” atau “di tengah-tengah” tadi mau muncul dan semakin banyak; saya yakin akan semakin banyak orang yang terbantu; bukan saja individu dengan SSA, Interseks, Aseksual, dan pelaku LGBT, tapi juga teman dan keluarga mereka, organisasi masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Semoga semakin banyak orang-orang seperti penulis buku DWR (Mas Sinyo, salut saya :) ) yang dengan ikhlas membantu saudara-saudara kita untuk kuat menjalani cobaan/ ujian hidup yang berat tersebut. Yuk teman-teman, pembaca ikut mengedukasi masyarakat luas tentang masalah/ isu SSA dan atau LGBT ini. 

RELATED POST:
ANAKKU BERTANYA TENTANG LGBT 




“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.’ ”
(QS. Al Hijr: 56)

“Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
(QS. Asy-Syuura: 43 )

”Sesungguhnya ALLAAH tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd: 19)

”Siapa yang sanggup mengelola tekanan, dia yang layak disebut pahlawan.“
(Family DISCovery)
 

Thursday, 3 April 2014

BERIMAN NAMUN JUGA BERFIKIR [4]

BERIMAN NAMUN JUGA BERFIKIR” [4]
Beberapa Jawaban dari Pertanyaan dan Pernyataan Irshad Manji
dalam Surat Terbukanya
(Beriman Tanpa Rasa Takut)

  • BAB 3: KAPAN UMAT ISLAM BERHENTI BERFIKIR
       Mungkin Irshad Manji telah membuat geram tokoh-tokoh Islam atau orang-orang Islam pada umumnya yang membaca buku/ surat terbukanya ini. Karena di sana dia dengan blak-blakan mengungkapkan tentang beberapa pertanyaan atau ketidaksetujuan terhadap Al-Qur’an (tafsir Al-Qur’an mungkin lebih tepatnya), perilaku orang-orang Islam terdahulu maupun sekarang, tindakan-tindakan Muhammad SAW, dan kaum muslim lain yang menurutnya menyimpang/ tidak pantas namum didasarkan pada (dibenarkan) Islam. Dia membuka beberapa hal buruk tentang Islam yang masih belum bisa ditolerir (menurutnya). Namun selain itu dia juga telah membuka pikiran dan hati kita tentang kelebihan-kelebihan islam di masa lampau/ masa kejayaan Islam (di mana dia, saya, kita atau siapapun tentu berdecak kagum dan ingin Islam berjaya kembali namun tentu tidak dengan menindas agama, kaum atau golongan lain), memberikan beberapa pengetahuan yang mungkin belum kita ketahui, dan mengajak kita untuk melihat dunia Islam dari sudut pandang lain. Dia menantang kita untuk bisa melakukannya. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba melakukannya dan menghadapinya, bukan malah mencaci-maki atau mengusirnya bukan?

  • BAB 4: GERBANG DAN KORSET
  • Terkait Pakta Umar
      Apakah benar-benar ada diskriminasi tsb? Seperti Politik Apartheid di Afrika atau seperti aturan yang diterapkan Hitler (NAZI) untuk Yahudi di Jerman? Jika pun memang ada namun saya masih mempunyai keyakinan bahwa pakta tersebut dibuat semata-mata untuk kebaikan atau melindungi orang/ kelompok agar tidak terdzalimi.
Yang tahu dan mengerti soal ini mohon komentarnya.


----------to be continued---------

“‘Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri’
Peduli setan dengan para pencekik. Apa lagi yang belum kita ungkapkan kepada diri kita sendiri sehingga kita bisa hidup dengan penuh cinta kepada orang lain dan tak lagi tenggelam dalam mentalitas – korban yang terus menyalahkan pihak lain?”
(Irshad Manji)


  • BAB 5: SIAPA MENGKHIANATI SIAPA?
     Apakah benar bangsa/ negara-negara Arab tidak menerima pengungsi Palestina? Sebagaimana mereka juga tidak menerima Zionis Yahudi/ Israel? Namun mereka memberikan hadiah/ donasi untuk pelaku bom bunuh diri (Mujahidin)? Yordania-lah satu-satunya negara arab Islam yang memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi Palestina?

  • Kristen Koptik di Mesir dan Syiah (penulis: Syiah Sesat, bukan Islam) di Arab Saudi Ditindas Secara Hukum
      Benarkah yang disebutkan itu fakta? Banyaknya nyawa yang melayang mungkin saja lebih namun tidak terpublish.
Assad bukankah Syiah? Rezimnya membunuh/ membantai orang-orang Sunni?
Amerika Serikat-lah yang membuat kita menderita kanker, menyebarkan, menciptakan, kemudian seakan-akan mengobatinya.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujaraat: 6)
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena ALLAAH, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada ALLAAH, sesungguhnya ALLAAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Maidaah: 8)
Sesungguhnya ALLAAH menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya ALLAAH memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya ALLAAH adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. An-Nisaa’: 58)
  • Berkembangnya Pendidikan yang Mengarah kepada Terorisme yang Telah Banyak Dilakukan oleh Ribuan Madrasah?
     Benarkah? Saya tidak sependapat. Apakah benar madrasah mengajarkan dan mengembangkan terorisme? Mana contohnya? Apa buktinya? Inilah salah satu bentuk pernyataan serangan dari para Islamphobia dan yang mengherankn saya kenapa seorang Irshad Manji yang berfikiran modern, terbuka dan kritis justru mengamini/ menyetujuinya?

  • (Pakistan) Pada Tahun 1977 Kudeta Militer Didukung AS, Jenderal Ziaul Haq Menang. Untuk Mengikat para Kepala Desa, Zia Mencampurkan Pemahaman Islam yang Puritif (Bersifat Suka Menghukum) dengan Adat Kebiasaan Suku Setempat. Hukuman Rajam Muncul sebagai Hukuman Legal atas Perzinaan dan Dipersyaratkan bahwa Perkosaan harus Disaksikan oleh 4 Laki-Laki Sebelum Seorang Pelaku Bisa Dikenai Tuduhan, Hukumannya Rajam – sesuai dengan Al-Qur’an.
     Jujur sayapun bingung sampai sekarang. Lalu bagaimana jika perkosaan tidak ada saksi? Sangat tidak adil bagi korban!

  • Tahun 1979 Abdus Salam (Pakistan) Mendapatkan Hadiah Nobel Bidang Fisika (dengan 2 Orang USA). Namun Negaranya Tidak Berbangga Malah Kewarganegaraannya Dirampas Karena Dia Menganut Ahmadiyah.
      Terlepas dari hadiah nobel yang didapatkannya, kepercayaan yang dia anut (Ahmadiyah) bukanlah Islam dan sesat, jadi wajar jika dia diusir dari Pakistan karena Pakistan adalah negara Islam.

Kata-kata yang saya suka dari Irshad Manji adalah:
Wahai Amerika, itu bukanlah inti diplomasi publik. Usaha sungguh-sungguh untuk bertindak benar ketimbang hanya terlihat benar, haruslah menjadi tatanan dunia saat ini!”
Setuju sekali!

  • BAB 6: WILAYAH-WILAYAH RAWAN DALAM ISLAM
      “Pada bulan Maret 2002, sikap patuh terhadap hukum Islam di Arab Saudi sampai-sampai dimaknai: perempuan muda tidak boleh menyelamatkan diri dari kebakaran sekolah hingga mereka mengenakan abaya (pakaian yang membungkus seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan). Menurut laporan berita Arab Saudi sendiri, 15 murid perempuan tewas, lusinan luka-luka, ketika polisi agama memaksa mereka masuk ke dalam bangunan yang terbakar untuk mengambil dan memakai abaya mereka.” (Irshad Manji)
Bagaimanapun hidup, nyawa dan kehormatan adalah yang paling utama. Jadi seharusnya yang terpenting adalah penyelamatan, setelah itu baru dipikir pakaiannya. Berfikir secara simple saja, toh jika dia sakit harus diperiksa, dibuka juga pakaiannya (abaya) kan? Dan lagi jika kondisi gedung terbakar menurut saya akan semakin berbahaya jika memakai abaya. Jadi jika dalam keadaan darurat hal tsb harus dipikirkan, prioritaskan nyawa/ keselamatan.

  • Mengenai kiblat, itu sudah ditentukan.
      Hal tsb untuk persatuan, agar sama arahnya, bayangkan jika berbeda lalu bagaimana bentuk/ posisi sembahyang shalat umat Islam? Kecuali jika dalam keadaan darurat, tidak memungkinkan, tidak diketahui arah kiblatnya maka ditolerir, shalatnya tetap sah meskipun tidak menghadap kiblat. Misal shalat di dalam kendaraan dan kehilangan arah.


----------to be continued---------


      Maaf saya belum menjawab semuanya. Ada beberapa yang mungkin kurang, berlebihan ataupun salah. Salah satu tujuan saya memposting tentu agar mendapat feedback dari teman-teman pembaca. Silahkan bagi yang ingin menambahkan atau menyampaikan pendapatnya, baik setuju ataupun tidak, akan sangat saya hargai, sebagai wujud dan bukti kita memanfaakan otak kita untuk berfikir dan berdiskusi, berdialog bukan untuk mencari-cari keburukan orang lain, apalagi saudara kita, bukan juga untuk mencela dan menjatuhkan.
Kritik dan saran sangat saya nantikan untuk perbaikan ke depannya. Terima kasih sudah bersedia mampir, membaca dan mengomentari postingan saya.
     Terakhir, pesan saya, “Mari budayakan berfikir!”



  • Opini di postingan ini adalah semata tanggapan saya pribadi terkait isi Surat Terbuka/ E-Book Irshad Manji berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut (Versi Indonesia .) Dengan begitu komentar berupa jawaban ataupun pertanyaan belum bisa dikatakan semuanya menunjukkan pandangan saya. Mohon pembaca tidak rancu dengan kenyataan di lapangan, pernyataan, atau pertanyaan yang muncul. Tambahan berupa ayat-ayat Al-Qur’an semata-mata untuk mengingatkan dan membantu kita bersama. Semoga tulisan saya ini bermanfaat.

[NB: Jika anda ingin mengetahui isi surat terbuka/ buku Irshad Manji selengkapnya silahkan beli bukunya dan baca seluruh isinya atau bisa juga download e-booknya]