| Home | Book-Literature | Inspiring-Religion | Economy-Business | Social-Cultural-Languange | Politics-Conspiracy | Health-Sport | Music-Movie | Femininity-Parenting |
Showing posts with label Palestina. Show all posts
Showing posts with label Palestina. Show all posts

Wednesday, 12 November 2014

HAGANAH: METAMORFOSIS HASHOMER

     Kelompok ekstrim sebelum berdirinya Israel di negara Palestina setelah Hashomer adalah Irgun HaHagannah Ha’vri atau biasa disebut Haganah. Yang unik adalah Haganah (baca: hah gah nah) terbentuk berdasarkan usul dari Hashomer.
Jauh sebelum Israel berdiri, kelompok-kelompok ekstrim yahudi memang selalu membuat kekacauan dan menghancurkan umat Islam di Palestina dengan program-program yang telah disusunnya. Israel berdiri pun tidak lain adalah hasil dari kekuatan tangan-tangan kelompok ekstrim yahudi ini.

SEJARAH HAGANAH
    Dalam postingan sebelumnya telah dibahas tentang Hashomer. Hashomer adalah kelompok teroris Yahudi yang bermetamorfosis menjadi sebuah kelompok teroris Zionis lainnya bernama Haganah. 
Menurut Ami IsseroffHaganah adalah gerakan bawah tanah Yahudi yang didirikan pada tahun 1920 dengan nama resmi Irgun HaHagannah Ha’vriHaganah bisa dikatakan sebagai salah satu pilar organisasi pramiliter Yahudi di wilayah Palestina saat masih menjadi wilayah mandat Britania Raya (Inggris) sejak tahun 1920 sampai dengan tahun 1948.
Madjid Shafa menyatakan bahwa kelompok ini merupakan Organisasi Militer Zionis yang memulai aktifitasnya sejak tahun 1921 di Yerusalem. Tujuan mereka adalah mengusir rakyat Palestina dan menggantinya dengan orang-orang Yahudi. Saat pembentukan organisasi tersebut pemimpin mereka mengatakan bahwa tujuan dari didirikannya Haganah adalah membela kehidupan, kepemilikan dan keagungan bangsa Yahudi.
Karena itulah ketika Haganah terbentuk banyak elemen pasukan Yahudi yang segera bergabung dalam barisan Haganah. Mereka notabene adalah orang-orang Yahudi yang pernah berperang di Balkan bersama pihak Inggris pada pertengahan Perang Dunia I (1917-1918).

        Menurut Madjid Shafa, membanjirnya para imigran Yahudi dari beberapa negara Eropa - khususnya Eropa Timur – di tahun 1920 sampai dengan tahun 1930 semakin memperkuat salah satu sel kelompok teroris Zionis ini. Hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar imigran yang baru datang adalah pemuda. Banyak dari mereka yang juga memiliki pengalaman di bidang organisasi milisi dan rahasia di tempat-tempat pemukiman Yahudi di Eropa Timur. Pada tahun yang sama, Haganah di bawah pimpinan David Ben-Gurion melaksanakan aksi teror dan kekerasan. Haganah yang semula hanya terbatas sebagai kekuatan bersenjata demi mempertahankan pemukiman imigran Yahudi, kemudian berubah menjadi laskar yang melakukan penyerangan terhadap warga Arab-Palestina. Mereka juga melakukan pengadaan dan pembelian senjata untuk merancang konflik dengan masyarakat Arab-Palestina yang kemudian dikenal dengan rencana Ben Zion Dinos, sebuah rencana yang menyusun daftar dan tanggal aksi pembunuhan terhadap para pemimpin Arab-Palestina saat itu.

     Pemilihan tempat-tempat pemukiman Yahudi yang murni dibangun dengan tujuan strategis dan politis sangat berpengaruh dalam terbentuknya Haganah dan pola pikir para anggotanya. Pemilihan tempat pemukiman Yahudi tidak hanya berlandaskan pada faktor ekonomi namun juga faktor kebutuhan pertahanan sentral dan strategi penempatan warga Yahudi berdasarkan jaminan akan eksistensi politik warga Yahudi di seluruh tanah Palestina.
Menurut mereka berhadapan langsung dengan warga Arab secara khusus akan mempengaruhi faktor ekonomi. Menurut mereka hal ini pada gilirannya akan menjadikan pemukiman Yahudi tersebut menjadi sebuah benteng kokoh untuk pertahanan Haganah. Program-program ekonomi dan pertanian pun akhirnya dijalankan secara bersamaan dengan program militer.
Haganah memiliki dua komando rahasia yakni Komando Tinggi Sipil dan Komando Tinggi Militer, dua komando ini tunduk pada kelembagaan Zionis yang berpusat pada agen-agen Yahudi.

EKSPANSI HAGANAH
     Pada awal perkembangannya, Haganah mengadakan hubungan dengan organisasi Persatuan Para Buruh Yahudi di Israel bernama Hestodort. Pada periode tahun 1920-an Haganah menyiapkan landasan untuk aktivitasnya di bidang spionase, penyelundupan senjata dan pemindahan orang-orang Yahudi ke Palestina.
Abdul Wahhab Maisiri menyatakan bahwa Yosef Hekht - seorang pemimpin Haganah - dalam laporannya kepada David Ben Gurion terkait masalah ini mengatakan, “Di masa itu, Haganah memiliki 27 senapan mesin, 750 senapan 1050 revolver, dan 750 granat. Karena jumlah senjata ini dirasa tidak cukup untuk menguasai Palestina maka para personil Haganah berusaha mengimpor senjata dari luar negeri. Hal ini dilakukan melalui penyelundupan senjata dan pembangunan beberapa pabrik kecil pembuat senjata ringan.”
Mulanya perlindungan terhadap semua koloni dan pemukiman Zionis masih berada di bawah komando pusat Haganah tetapi setelah peristiwa Revolusi 1929 Haganah mulai mengatur kelembagaannya atas dasar ekspansi, perluasan pendudukan dan operasi teror. Haganah juga mengumpulkan berbagai perangkat senjata, menyimpan bahan logistik dan memproduksi sebagian lainnya pada tahun-tahun berikutnya.

      Ketika Buku Putih Kedua dipublikasikan pada tanggal 21 oktober 1930, yang mencakup pasal-pasal pemindahan orang-orang Yahudi ke Palestina maka pihak Zionis memutuskan untuk memperkuat Haganah dan menggunakan beberapa cara untuk menghalangi kedatangan yang tidak diinginkan dari warga Yahudi ke Palestina.

    Pada tahun 1931 Haganah pun terpecah. Hal ini terjadi menyusul pertikaian di tubuh internal mereka sendiri dan memunculkan sebuah faksi bernama Haganah B. Namun pada tahun 1936 kelompok sempalan tersebut kembali bergabung ke Haganah meski sebagian lainnya menolak kembali dan lebih memilih membentuk kelompok baru benama Irgun.

   Haganah, salah satu kekuatan yang mencetak sejarah bagaimana kelompok-kelompok Yahudi tetap eksis hingga sekarang. Dan tepat 83 tahun lalu hingga saat ini United Kingdom (Inggris) telah terbukti menjadi salah satu negara Barat yang jelas-jelas membantu keeksisan kelompok yahudi ini.
Haganah rupanya telah bekerjasama dengan pasukan Inggris dalam rangka meredam revolusi rakyat Palestina tepatnya di tahun 1929. Atas kerjasama itu pula pemerintah sementara Inggris menugaskan salah seorang perwiranya untuk membentuk Brigade-Brigade Zionis demi memadamkan revolusi rakyat Palestina. Pemerintah sementara Inggris juga memberi ijin kepada Haganah untuk membentuk satuan polisi bernama Nou Therim yang terdiri dari 22.000 prajurit yang dilengkapi senjata dan sarana militer lainnya.

     Pada tahun 1937 Haganah membentuk sebuah unit khusus bernama Mossad Aleya Bet. Unit ini bertugas mengawasi operasi penyelundupan orang-orang Yahudi ke Palestina. Di tahun yang sama sebuah unit lain dengan nama sandi Richsen dibentuk untuk memperoleh senjata. Selain itu ada juga Shirot Yadiot atau Sha yang bertugas menjaga kepentingan intelejensi milisi Haganah.
Sebagian besar operasi Aleya Bet dan Richsen diemban oleh Haganah. Sedangkan Sha memainkan peran penting dalam mensukseskan jalannya berbagai operasi ini. Sebagai contoh, Haganah memberikan informasi tentang kiriman muatan senjata untuk pasukan Inggris di Palestina. Dalam banyak kasus, senjata-senjata ini justru jatuh ke tangan Haganah.
Melalui kesepakatan khusus yang dibuat oleh Aleya Bet dengan manajemen operasi khusus Inggris, mereka mulai mengatur operasi para penerjun payung Haganah di berbagai negara Balkan yang notabene dikuasai oleh Nazi.
Meski alasan resmi dan tujuan yang diprogandakan dari operasi-operasi ini semata-mata untuk mendorong warga Yahudi kawasan Balkan melawan Nazi tetapi para penerjun payung Haganah sama sekali tidak menunjukkan aktivitas di bidang ini. Kegiatan mereka semata-mata difokuskan pada hubungan dengan organisasi-oraganisasi Zionis di kawasan itu dengan tujuan mengkoordinasi operasi pemindahan orang-orang Yahudi ke Palestina. Mereka berhasil memindahkan 10.000 warga Yahudi Balkan ke Palestina.

       Dalam tahun-tahun pertama Perang Dunia II, pemerintah Inggris meminta Haganah untuk bekerja sama kembali, karena ketakutan akan serbuan Kekuatan Poros ke Afrika Utara. Setelah Erwin Rommel dikalahkan di El Alamein pada tahun 1942, Inggris menarik dukungannya terhadap Haganah. Pada tahun 1943, setelah permintaan dan negosiasi yang lama, tentara Inggris mengumumkan pendirian Brigade Yahudi. Ketika Yahudi Palestina diperbolehkan mendaftarkan diri ke dalam tentara Britania Raya sejak tahun 1940, ini adalah pertama kalinya sebuah unit militer khusus Yahudi berperang di bawah bendera Yahudi. Brigade Yahudi terdiri atas 5.000 tentara dan ditempatkan di Italia pada bulan September 1944.
Operasi pengumpulan senjata secara illegal terus dilakukan Haganah hingga tahun 1948, dimana kemudian Negara Zionis Israel berdiri. Sebagai contoh ketika pasukan Inggris mundur dari Palestina pada tahun 1947 sampai dengan tahun 1948, unit Sha memberikan informasi akurat perihal waktu tahap-tahap pengunduran diri mereka kepada Haganah. Informasi-infomasi ini membuat Haganah dapat menduduki tempat-tempat yang ditinggalkan pasukan Inggris. Begitu tempat-tempat ini dikosongkan, dalam tempo beberapa menit saja Haganah berhasil memdapatkan persenjataan mereka.
Hal ini terus berlanjut sehingga ketika masa pendeklarasian berdirinya Israel pada 15 Mei 1948, Haganah telah siap dari segi pasukan maupun persenjataan. Karenanya sangat tidak heran jika Haganah kemudian diizinkan berubah secara resmi menjadi tentara Israel. Langkah ini tak lain dilakukan oleh Ben Gurion Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Rezim Zionis pada masa itu. Begitu rezim Zionis dibentuk Ben Gurion segera mengeluarkan perintah agar Haganah dan Kelompok-kelompok militer Zionis lainnya bergabung untuk menjadi Tentara Israel.

       Pada 28 Mei 1948 pemerintah sementara meresmikan Pasukan Pertahanan Israel sebagai pengganti Haganah. Pemerintah juga tidak mengakui angkatan bersenjata selain dari itu. Irgun melanggar keputusan ini yang kemudian melahirkan perselisihan antara Haganah dan Irgun. Perlahan-lahan Irgun meletakkan senjata dan Menachem Begin mengubah milisinya menjadi sebuah partai politik yang bernama Herut.
(To be continued...)

     Insya Allaah di postingan berikutnya saya akan membahas tentang kelompok yahudi lain yang merupakan sempalan/ faksi di dalam Haganah bernama Irgun. Ditunggu ya. Jika ada yang salah mohon dikoreksi dan jangan lupa subscribe atau follow. Merci.




[Referensi: Islampos.com,Negara Fiktif, Mausu’ah Al-Mafahim Wa Al-Musthalahat Ash-Shhahyuniyah]

Saturday, 1 November 2014

HASHOMER: PELINDUNG YAHUDI

    Sebelum bangsa Yahudi Zionis mendeklarasikan berdirinya negara Israel di tanah Palestina dan membantai rakyat Palestina hingga sekarang, ternyata banyak jejak sejarah dan rekaman yang menerangkan bahwa tentara Isarel sudah menyiapkan seperangkat kelompok teroris yang akan bertugas membasmi rakyat Palestina dan mendirikan Negara ilegal Israel. Kenapa disebut ilegal? Karena secara syarat pendirian negara seharusnya Israel tak dapat berdiri. Syarat negara adalah mempunyai penduduk, wilayah dan kemudian kedaulatan. Sedangkan Israel pada saat itu tidak mempunyai wilayah, wilayah yang didudukinya adalah milik Palestina. Terkait penduduk pun Israel sebenarnya tidak bisa dikatakan mempunyai penduduk, penduduk yang mendiami Israel orang-orang dari berbagai negara lain di seluruh dunia yang dengan sukarela dan juga terpaksa berpindah ke Palestina atas propaganda para pendiri Zionis Israel. Berikutnya tentang kedaulatan atau pengakuan negara lain, bahkan sampai sekarang bagaimana mungkin Israel bisa dikatakan berdaulat jika didirikan di atas tanah dan negara lain dengan membunuh dan mengusir warga negara tersebut? Negara-negara arab, timur tengah dan negara-negara lain pun banyak yang tidak mengakui berdirinya Israel, negara yang mengakui bangsanya sebagai bangsa yang terbaik ini. Hanya saja dengan pengaruh, jejaring, diplomasi, propaganda, kekerasan dan segala cara lain mereka lakukan untuk mendirikan Israel Raya di bumi Palestina, bukan di negara lain.  
  
Sebuah data dan fakta mengenai milisi-milisi kelompok teroris Zionis yang memliki andil penting dalam memuluskan jalan berdirinya negeri Rasis Israel pada tahun 1948. Jadi apa yang dilakukan (baca: penjajahan dan pembunuhan massal)  Israel selama ini terhadap Palestina, utamanya di Gaza bukanlah sekedar reaksi atas perjuangan Hamas dan pejuang Palestina lain – yang sering dijadikan alasan dan pembenaran pihak Israel dan pembelanya, namun memang sudah dipesiapkan dan direncanakan sejak jauh-jauh hari bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya.

     Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang kelompok-kelompok teroris yahudi sebelum berdirinya Israel di negeri para nabi Palestina. Saya tidak akan mengupas sepak terjang seluruh kelompok yahudi itu dalam satu postingan, tapi saya akan coba mengulasnya secara berurutan dan bersambung.
Pertama saya akan mengulas tentang kelompok Hashomer.

CIKAL BAKAL HASHOMER

Anggota Hashomer (1909)
     Dalam bahasa Ibrani (Hebrew: השומר‎) yang merupakan bahasa resmi Zionis Israel, Hashomer (HaShomer) berarti penjaga atau pelindung (The Watchman). Kelompok ini termasuk organisasi teroris Zionis pertama dan terpenting sebelum pembentukan rezim Zionis Israel. Aktivitasnya adalah menjalankan aksi untuk melindungi koloni-koloni pemukiman Yahudi di Palestina.
Amos Perlmutter menulis, “Unit Pertahanan pertama Yahudi di pengungsian dibentuk di penghujung abad ke-19 di Eropa Timur. Pada tahun 1905, Partai Puali Zion yang didirikan sebelum gerakan Sosialis Zionis mengawasi pembentukan kelompok-kelompok pertahanan di Palestina. Pada tahun 1909 tempat mereka diambil alih oleh kelompok Hashomer.”

Menurut Madjid Sahafa mulanya Hashomer bukanlah merupakan kumpulan orang-orang Zionis yang sepaham, melainkan gabungan para aktivis Zionis dari Eropa Timur, Ukraina, dan Kaukasus. Belakangan, orang-orang Yahudi Marxis dari Rusia bergabung dan menciptakan spirit militerisme di dalam tubuh Hashomer.
Sedangkan Leonerd Mosely mengatakan bahwa pada tahun 1907 imigran Zionis membentuk sebuah organisasi militer bernama Bar Guevara (Komunitas Rahasia Yahudi) yang bertugas mengumpulkan informasi-informasi rahasia. Imigran yang membentuk Bar Guevara adalah Yitzhak Ben Tarvi, Alexander Zeid dan Israil Shuhet. Bar Guevara adalah cikal bakal Hashomer. Setelah dua tahun berjalan, reorganisasi pun dilakukan dan nama Bar Guevara kemudian diubah menjadi Hashomer.

METAMORFOSIS HASHOMER
     Meski mulanya Hashomer dibentuk untuk melindungi koloni-koloni pemukiman Yahudi, namun belakangan kelompok ini bermetamoforsis menjadi kelompok teroris, militer, dan spionase ZionismeHashomer memiliki pengaruh kuat pada sebagian besar organisasi-organisasi sosialis Zionis dan melancarkan aksi teror bagi rakyat Palestina.
Selain menjaga dan melindungi koloni-koloni Zionis di Palestina, Hashomer juga membangun beberapa koloni pemukiman Yahudi untuk ditempati oleh para imigran Yahudi yang datang dari Eropa Timur.
Koloni pertama dan kedua yang dibangun Hashomer adalah koloni Marjabia dan Tel Hadshim, dua-duanya terletak di Lembah Bisan. Selain itu Hashomer membangun koloni di Desa Mithlah di sekitar kawasan Jalil bernama Kofr Jaladi.

     Saat awal Perang Dunia I, Hashomer sempat dikejar-kejar oleh pihak Turki. Rahasia-rahasia kelompok Hashomer akhirnya terbongkar setelah penangkapan salah seorang anggota kelompok spionase Neili bernama Lisanisky. Kejadian ini berujung pada penangkapan 12 anggota Hashomer.
Meski demikian, orang-orang Turki tidak bisa memperoleh informasi lengkap perihal aktivitas anggota Hashomer dalam jaringan Zionis. Akhirnya Hashomer selamat dari pengejaran pejabat-pejabat Turki namun tidak bisa terbebas dari dampak spionase yang dilakukannya, yaitu pendeknya masa aktivitas organisasi dan pembubarannya.

     Setelah Palestina jatuh ke tangan Pasukan Inggris (Britania Raya) terbongkarlah bahwa beberapa pemimpin Hashomer bekerja pada sebuah jaringan spionase dan menjadi penghubung antara jaringan itu dengan komite politik Pishof. Meskipun belakangan diketahui bahwa sebagian bantuan dana itu tidak sampai ke tangan komite melainkan masuk ke kantong beberapa pengurus Hashomer.
Sepanjang periode kekuasaan Inggris atas Palestina, Hashomer meningkatkan aksi teror dan militernya terhadap warga Palestina dan Inggris.
Hashomer Memorial (Tel Hai)
Akhirnya pada permulaan dekade abad ke-20, ketika kaum Zionis merasakan kebutuhan mendesak untuk membentuk sebuah kekuatan militer besar, Hashomer pun mengusulkan pembentukan organisasi Irgun HaHagannah Ha’vri (Haganah) dan segera berinisiatif mendirikannya. Namun beberapa anggota Hashomer menolak usulan tersebut dan lebih memilih membentuk kelompok perang kecil bernama Brigade-Brigade-Perang. Kelompok ini pun tetap berbentuk seperti ini, hingga revolusi terhadap rakyat Palestina meletus pada tahun 1929. Di kemudian hari, akhirnya mereka terpaksa bergabung dengan Haganah (baca: hah gah nah)

MEMBER
Anggotanya yang merupakan tokoh terkenal diantaranya:
  • Israel Shochat (one of the founders and leaders of the movement)
  • Manya Shochat (the mother of collective settlement in Israel)
  • Yitzhak Ben-Zvi (second President of Israel as well as a founder)
  • Alexander Zaïd (a founder)
  • Mendel Portugali (a founder)
  • Israel Giladi (a founder)
  • Yehezqel Nissanov (A founder)
  • Eliyahu Golomb (one of the major Haganah leaders)
  • Haim Sturman (an active figure in the Haganah and the Jezreel Valley settlements)
  • Pinhas Sneerson (an active figure in "Gdudei HaAvoda" and the "Haganah")
  • Avraham Yosef Berl (the first fatality in the movement)
      Yutzhak Ben Tarvi (Yitzak Ben-Zvi) yang merupakan salah seorang pengurus Hashomer akhirnya berhasil menjadi presiden Israel dan Ben Gurion yang menjadi perdana menteri pertama Israel adalah salah seorang pendukung utamanya. 

(To be continued...)

     Postingan saya berikutnya akan membahas tentang kelompok atau organisasi yahudi yang pernah disinggung di atas, yaitu Irgun HaHagannah Ha’vri (Haganah), Insya Allaah. Ditunggu ya, dan jangan lupa subscribe atau follow. Jika ada yang salah mohon dikoreksi. Merci. :)




[Referensi: Islampos.com, wikipedia, Militer dan Politik di Israel, Negara FiktifGideon Goes To War]



 

Sunday, 5 October 2014

INDIKASI KEHANCURAN ISRAEL

      Tahun 2014 menjadi tahun ke-66 penjajahan Israel atas tanah Palestina, sebuah catatan yang panjang sekali. Selama dalam kurun waktu tersebut, sekarang ini, hampir 80% wilayah Palestina sudah berhasil dikuasai oleh Zionis. Sehubungan dengan paham Anti-Semit yang merebak, banyak bangsa Yahudi yang “kembali” ke Israel (dalam bahasa Ibrani disebut dengan istilah “aliyaa”).
Paham Anti-Semit terjadi sedemikian rupa di luar perkiraan Israel sendiri. Isu Holocaut yang selama ini dijadikan pelindung bagi Yahudi, perlahan-lahan mulai surut dan bahkan banyak masyarakat Eropa sendiri yang tidak percaya kepada Holocaust sebenarnya. Di dalam negeri pun Israel tengah bertempur, para pemimpinnya saling sikut dan berebut kekuasaan. Friksi ini diyakini akan mengakibatkan tersendatnya kesatuan paham di antara mereka sendiri. Di sisi ekonomi, negara-negara yang selama ini memberikan bantuan kepada Israel mulai menuai protes dari rakyatnya untuk menghentikan kebijakan itu. Otomatis Israel menjadi sedikit limbung. Salah satu yang membuat Israel melakukan agresi ke Gaza pada tahu 2009 salah satunya adalah untuk mencari sumber minyak baru dan air. Sudah beberapa waktu belakangan ini, Israel dilanda kekeringan. Sementara Hamas, sebagai penentang Israel nomor 1, seperti diprediksi banyak orang, malah semakin kuat pasca-agresi ke Gaza. Beberapa hal tersebut oleh beberapa pengamat dijadikan sebagai indikasi ambang kehancuran negara Zionis yang ilegal. Uniknya, para analis Israel sendiri tidak menampik kekhawatiran ini. 

Inilah beberapa indikasi  kehancuran Israel:
1. Sebagai negara penjajah Israel jelas kehilangan kemampuannya untuk melakukan peleburan dengan bangsa lain di kawasan Timur Tengah. Ini karena Israel hampir tidak beda dengan Barat dan merupakan kepanjangan kepentingan dan politik mereka di Timur Tengah. Misalnya saja dengan Mesir. Meski pada intinya pemerintah Mesir berkongsi dengan Israel, namun masyarakatnya sendiri jelas-jelas menolak Zionis dalam bentuk apapun.
2. Israel mengalami ketimpangan secara demografi melawan pertumbuhan warga Arab. Hal ini nyata menimbulkan rasialisme terhadap warga Israel dari keturunan Arab dan terhadap warga Palestina. Israel akan berubah, seperti nasib Afrika Selatan pada masa rasialisme Apartheid. Pada akhirnya legalitas Israel akan tercerabut dan mereka akan dimusuhi. Fenomena ini sekarang sudah muncul secara internasional. Meski dukungan terhadap Yahudi di Amerika begitu kuat, mayoritas negara dunia tidak sepakat dalam hal ini. Apalagi jika strategi politik Arab menyerukan solusi satu negara dan bukan dua negara dalam menyelesaikan masalah konflik Palestina Israel.
3. Dunia semakin sadar tentang apa yang terjadi di Timur Tengah. Ini artinya tekanan masyarakat internasional terhadap pemerintah-pemerintahan mereka akan semakin kuat agar memiliki politik tegas terhadap Israel. Di Israel sendiri mulai ada sejumlah organisasi swasta mendukung aksi Anti-Israel dan melakukan aksi internasional melawan cara-cara Israel menghancurkan rumah warga Palestina dan pengusiran mereka. Dengan berangsurnya kemajuan ekonomi Negara-negara Timur Tengah, perimbangan dan bargaining perdagangan dengan sejumlah Negara akan mulai memaksa negara lain untuk mendukung kepentingan Arab. Secara otomatis Israel akan tercekik. Resesi ekonomi global menjadi jalan pembukanya.
4. Menurunnya jumlah militer Israel sebab jumlah kelompok usia tua militer Israel semakin tinggi. Di samping naiknya jumlah kelompok Yahudi ekstrem "harayadam" yang menolak bergabung dalam militer Israel. Sekarang ini, persentase mereka sudah mencapai sembilan persen dari warga Israel. Perang yang dilakukan Israel akan menimbulkan kerugian nyawa yang tidak terkira. Sementara bangsa Palestina, seperti yang sudah-sudah dan telah dibuktikan, akan selalu bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.
5. Israel mengalami masalah sosial dan politik internal yang krusial. Perpecahan antara Kadima dan Likud akan terus berlanjut.  
6. Kelas terpelajar sekuler dari Barat mereka eksodus balik. Sehingga di Israel hanya akan tersisa kelompok ekstrem dalam politik dan agama. Perseteruan dua kelompok ini sangat panas sebab satu sama lain mengkafirkan.
7. Ekstremis dan fanatisme kelompok di Israel akan saling menghabisi. Ini barangkali yang digambar dalam Al-Quran, "kalian kira mereka berkumpul tapi hati mereka terpecah".

     Insya Allaah untuk postingan berikutnya saya akan membahas tentang sepak terjang kelompok-kelompok yahudi sebelum Israel berdiri di tanah Palestina.




[Sumber: Eramuslim.com]

Thursday, 2 October 2014

BARACK HUSEIN OBAMA, ZIONISME & MIDDLE EAST

    Sejak Barack Husein Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44, dunia ingin merasakan angin perubahan. Dunia berharap banyak pada Obama, setidaknya dia bisa merealisasikan janji-janjinya saat kampanye yaitu change (perubahan). Obama diharapkan mampu merubah citra AS di mata dunia. Sayangnya harapan itu hanya harapan kosong. AS bukanlah negara demokratis sebagaimana mereka dengungkan. Pemilu di AS hanyalah dagelan politik murahan buatan Zionis Yahudi. Siapapun yang akan menjadi presiden di AS harus mendapat restu Zionis Yahudi, begitupun dengan Barack Obama. Sehingga mengharap pada Obama sama dengan mengharap pada yahudi. Hampir seluruh sepak terjang presiden AS merupakan refleksi kepentingan Zionis Yahudi, presiden hanyalah "wayang" yang dikendalikan oleh Zionis Yahudi.

   Di AS, Zionis Yahudi menanamkan hegemoninya begitu dalam. Seluruh kegiatan politik AS, baik di dalam maupun di luar akan dipantau secara langsung oleh lembaga lobi yahudi yaitu American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Lembaga resmi ini didirikan tahun 1950-an. Kelompok lobi ini dibangun oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Negara Yahudi Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan budget tahunan sebesar 15 juta dollar AS. Dana yang antara lain mereka kumpulkan dengan cara memeras diaspora Yahudi yang tinggal di AS. Mereka mengeksploitasi perasaan bersalah para diaspora yang dianggap hidup enak di negeri orang, sementara saudaranya yang tinggal di Israel setiap hari harus berhadapan dengan Intifada atau bom bunuh diri dari kelompok pejuang Palestina.
Selain AIPAC ada juga Conference of Presidents of Major Jewish Organizations (CPMJO). Menurut riset National Journal pada Maret 2005 dan Forbes pada 1997, dalam hal melobi Washington, AIPAC hanya kalah oleh Asosiasi Pensiunan AS. Mereka didukung tokoh-tokoh terkemuka Kristen Evangelis seperti Gary Bauer, Jerry Falwell, Ralph Reed, Pat Robertson yang bernaung di bawah bendera The American Alliance of Jews and Christians (AAJC). Kelompok ini muncul pada Juli 2002 dipimpin Bauer dan Rabi Daniel Lapin. Bahkan dua bulan setelah AAJC berdiri, Dick Armey seorang Kristen Zionis yang merupakan mantan orang kuat di parlemen secara terbuka mengungkapkan, "Prioritas utama saya dalam kebijakan luar negeri adalah melindungi Israel."
George Sunderland, nama pena anggota Kongres AS, dalam situsnya www.counterpunch.org menulis lobi Israel di Kongres terus menguat dari tahun ke tahun, pemain utamanya AIPAC. "Bukan cuma karena uang yang mereka berikan (kepada para politikus), mereka juga bisa menghukum secara politis," tulisnya.
Gagalnya senator dari Illinois, Charles Percy, kembali ke Capitol Hill pada 1984 diduga karena lobi AIPAC. Mereka marah gara-gara Percy mendukung penjualan pesawat pengintai Awacs kepada Arab Saudi dan mengkritik Israel. Tom Dine selaku Direktur Eksekutif AIPAC mengisyaratkannya dalam sambutan di Toronto pada tahun yang sama. "Semua orang Yahudi bersatu untuk menyingkirkan Percy, ini pesan bagi para politisi Amerika," katanya.

   Di pemerintahan, lobi Yahudi Zionis menancapkan kukunya dengan membantu biaya kampanye kandidat baik dari Partai Republik maupun Partai Demokrat. Pada tahun 2000 Jerusalem Post melaporkan bahwa Yahudi menyumbang 50% dana kampanye Bill Clinton pada 1996. Pada tahun 2003 Washington Post menghitung ada 60% dari dana kampanye para calon presiden Demokrat berasal dari pengusaha Yahudi. Jimmy Carter pun pernah dibuat keder oleh kelompok lobi. Carter sebenarnya ingin mengangkat George Ball yang kritis terhadap Israel sebagai Menteri Luar Negeri, tapi takut akan lobi Israel dia akhirnya hanya menjadikan Ball wakil Menlu.

  Michael Massing di The New York Review of Book Edisi 8 Juni 2006 menulis bahwa kebijakan AIPAC sangat bergantung pada para direkturnya yang dipilih berdasarkan kekayaan. Yang paling berpengaruh adalah Robert Asher, Edward Levy, Mayer Mitchell, dan Larry Weinberg yang dikenal dengan nama "Gang of Four". Menurut editor di Columbia Journalism Review, keempat pengusaha kaya-raya tersebut tak peduli terhadap mayoritas Yahudi di AS yang cinta damai.

  Selain memenangkan dukungan AS atas konflik Palestina, prestasi terbesar lobi Israel adalah memaksa AS menginvasi Irak. Perang tersebut didorong oleh niat menciptakan situasi lebih aman bagi Israel di Timur Tengah. Demikian fakta yang dipaparkan Philip Zelikow, mantan anggota badan penasihat presiden AS untuk urusan luar negeri. Menurut Zelikow, Irak sebenarnya tak mengancam AS, namun Israel. Bukti lain, tajuk mantan perdana menteri Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu di Wall Street Journal yang mendesak pemerintah George W. Bush menindak Irak.

    Kuatnya lobi Israel di AS telah berhasil memaksa AS memberikan bantuan sebesar 3 Milliar Dolar Amerika pertahun kepada Israel, bantuan ini merupakan seperlima bantuan luar negeri AS. "Buku hijau" Badan AS untuk Pembangunan Internasional (USAID) mencatat hingga tahun 2003 total pinjaman dan hibah yang diterima Israel lebih dari US$ 140 miliar atau setara dengan Rp 1.260 triliun – dua kali lipat anggaran Indonesia pada tahun 2006.
Selain soal dana, dukungan AS juga diaplikasikan pada PBB. Tercatat sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2006 sudah ada 66 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi Israel di Palestina diveto AS. Ini belum termasuk resolusi setelah tahun tersebut plus resolusi terakhir saat Israel melancarkan agresinya di Gaza, Palestina.
Para pelobi juga menguasai media. "Komentator Timur Tengah (di AS) didominasi oleh orang-orang yang tak mampu mengkritik Israel," kata Eric Alterman, Profesor Inggris di Brooklyn College yang juga komentator media di MSNBC.com (Maret 2002). Dia mensurvei 66 komentator dan hasilnya hanya lima yang berani mengambil posisi proArab!

   Obama sendiri saat kampanye didukung penuh oleh Yahudi. Situs surat kabar Israel Haaretz pernah memuat laporan tentang tokoh-tokoh Yahudi AS yang memainkan peran penting dalam proses pemilu dan kampanye presiden di AS dibawah judul "36 Jews Who Have Shaped the 2008 U.S. Election".
Dari 36 nama tersebut terdapat nama-nama penggalang dana kampanye bagi Obama, diantaranya:
  1. Sheldon Adelson, seorang Republikan, neokonservatif dan seorang 'mega-donor'
  2. Sherry Lansing, seorang penggalang dana dan donatur utama Partai Demokrat, perempuan pertama yang memimpin Paramount Picture, salah satu studio film terkenal di Hollywood
  3. Eli Pariser, pemimpin situs MoveOn.org, situs advokasi online beraliran liberal yang menggalang dana untuk kandidat presiden dari Partai Demokrat
  4. Penny Pritzker, ketua nasional bidang keuangan kampanye Obama, seorang milyader berasal dari keluarga Yahudi yang dikenal kerap menjadi donatur besar
  5. Denise Rich, mantan istri milyader March Rich, seorang penggalang dana terbesar bagi Partai Demokrat
  6. Barbra Streisand, penyanyi terkenal yang menjadi ikon Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi, mendukung Obama dan berhasil menggalang dana sebesar 25.800 dollar dari kalangan selebritis Hollywood.
Data tersebut telah menjawab semua pertanyaan mengenai besarnya dana kampanye Obama saat itu. Dunia tahu bagaimana kampanye Obama yang menghabiskan jutaan dolar. Semua dana tersebut bukan berasal dari Partai Demokrat atau kantung pribadi Obama, melainkan sebagian dana adalah suntikan dari para donatur Yahudi. Sebagai imbalannya, Obama harus mendukung penuh seluruh kepentingan Yahudi baik di AS, Palestina dan dunia internasional.

   Mengingat begitu kuatnya lobi Yahudi Zionis di AS dan siapapun yang ingin menjadi presiden harus dapat restu Yahudi maka tak heran jika Obama harus meminta restu Yahudi dengan bersembahyang di Tembok Ratapan. Pada masa kampanyenya Obama banyak mengunjungi komunitas Yahudi dan Sinagog. Bahkan jauh-jauh hari sebelum ia mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2006, Obama pernah berkunjung ke Israel dan menengok keluarga Israel yang rumahnya hancur akibat serangan roket Katyusha. Sebulan kemudian ketika pecah perang antara Hizbullaah dengan Israel, Obama dengan tegas mengatakan bahwa Israel berhak membela diri. Hal inilah yang membuat Obama dilirik yahudi ketimbang John McCain (rivalnya).
Kunjungan Obama saat kampanye ke Israel juga dilakukan ke permukiman Sidrot dekat Jalur Gaza yang menjadi sasaran kelompok perjuang perlawanan Palestina sebagai respon atas kejahatan Israel. Obama mengkritik “aksi terorisme” terhadap Israel, menunjuk perlawanan Palestina dan persenjataan Hizbullaah Libanon dan sistem pemerintahan Iran.

    Faktor lain yang membuat publik Yahudi menggantungkan harapannya pada Obama adalah sikap Obama terhadap kelompok pejuang Hamas di Palestina. Obama menolak Israel melakukan perundingan langsung dengan Hamas. Obama menyatakan akan bersikap tegas terhadap Hamas sampai Hamas mau mengakui eksistensi Israel. Obama juga menyalahkan para pemimpin Palestina yang dianggapnya sebagai penyebab penderitaan rakyat Palestina.

    Sebelum Pemilu di AS, Obama tidak mau bertemu dengan Asosiasi Muslim Amerika. Selain suara muslim tidak begitu signifikan, beliau tentu takut dengan tekanan Yahudi. Bagi Obama sendiri  kalau dia punya kedekatan negara Islam, justru itu akan menjadi kredit negatif. Itulah sebabnya dia matian-matian meyakinkan publik AS kalau Husein dalam namanya tidak ada hubungan apapun dengan Islam. Padahal sebenarnya nama tersebut memang berasal dari bahasa arab. Ayah kandung Obama adalah seorang muslim. Maka tidak aneh jika ada nama Husein dan Barack di nama lengkap Obama. Sayangnya ibu Obama adalah seorang Atheis dan kedua orang tua Obama harus berpisah. Seperti kita tahu ibu Obama menikah lagi dengan orang Indonesia dan kemudian mereka sempat tinggal di Jakarta, Obama bahkan sempat bersekolah di SD Menteng.

    Hal yang tak kalah menariknya adalah komposisi orang-orang di belakang Obama. Secara mengejutkan, pasca kemenangannya Obama memilih Rahm Emanuel, seorang mantan tentara Israel pada masa Perang Teluk sebagai Kepala Staff Gedung Putih. Emanuel dikenal sebagai seorang Yahudi garis keras sehingga dijuluki "Rahmbo" oleh lawan-lawan politiknya. Emanuel pula yang menemani Obama saat memberikan pidato pro-Israelnya di hadapan AIPAC sekaligus mengatur pertemuan antara Obama dan jajaran eksekutif AIPAC.
Selain Rahm Emanuel, Obama menunjuk Hillary Clinton – rivalnya saat konvensi - sebagai Menteri Luar Negeri. Seperti kita tahu Hillary adalah mantan ibu negara yang mendukung Israel. Para diplomat tahu bahwa sikap Clinton terhadap Suriah lebih keras dibandingkan Obama dalam kampanyenya. Bahkan ia pernah mengajukan saran pada pemerintah AS untuk memveto resolusi PBB yang dirasa merugikan Israel di Palestina. Tak heran jika Israellah yang paling berbahagia dengan terpilihnya Hillary Clinton sebagai Menlu kabinet Obama. PM interim Israel Ehud Olmert langsung mengucapkan selamat pada Clinton dan mengatakan bahwa Clinton adalah sahabat Israel dan orang-orang Yahudi.
Tak hanya Hillary, Obama juga mengangkat Robert Gates untuk tetap pada posisinya sebagai Menteri Pertahanan AS. Warna pemerintahan George W. Bush yang beraroma Yahudi dengan tindakan terornya tetap jelas terlihat melalui Gates, walaupun mungkin pendekatannya tidak seekstrim Bush.

    Dalam urusan Timur Tengah, sikap pemerintahan Obama sudah jelas yaitu mendukung sepenuhnya Israel. Sebelum resmi menjabat sebagai Menlu, Hillary sudah menyampaikan pandangannya soal Israel. “Mengenai Israel, anda tidak dapat berunding dengan Hamas hingga kelompok itu melepaskan kekerasan, mengakui Israel dan setuju untuk mematuhi perjanjian pada masa lalu. Itu benar-benar bagi saya absolut," Clinton mengatakan pada dengar pendapat pengesahan jabatannya di Senat.
"Itulah sikap pemerintah AS, itulah sikap presiden terpilih," katanya setelah seorang senator memberi kesan bahwa naif dan tidak logis untuk berdiplomasi dengan pemerintah yang menentang Israel.

    Fakta di atas memberikan gambaran pada kita kemana arah pemerintahan Obama yang telah berjalan dua periode ini. Eksistensi Yahudi Zionis di AS dan Palestina akan semakin kuat sekuat dukungan AS.
Amerika akan tetap seperti amerika yang dulu. Secara membabi buta mendukung israel. Dan akan terus memberikan bantuan dana pada israel yang setiap tahunnya sebesar $3 miliar. Negara yang akan terus memveto resolusi PBB yang dianggap mengancam eksistensi israel di palestina.
Pada tahun 1789 Benjamin Franklin pernah mengingatkan bahaya yang akan ditimbulkan oleh Yahudi di kemudian hari jika mereka dibiarkan berada di Amerika. “Di sana ada bahaya besar yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang Yahudi. Di bumi manapun orang Yahudi itu berdiam, mereka selalu menurunkan tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial. Jika orang-orang yahudi tidak disingkirkan dari amerika dengan kekuatan undang-undang, maka dalam waktu 100 tahun mendatang mereka akan menguasai dan menghancurkan kita dengan mengganti bentuk pemerintah yang telah kita perjuangkan dengan darah, nyawa, harta, dan kemerdekaan pribadi kita”, paparnya.
Sekarang ramalan tersebut telah terbukti sehingga sulit bagi kita mengharapkan Obama menyelesaikan konflik di timur tengah khususnya Palestina secara bijak apalagi yang sifatnya menguntungkan Palestina. Memberikan solusi positif bagi palestina yang sifatnya menguntungkan palestina umumnya dan Pemerintahan Hamas khususnya berarti akan mengancam eksistensi Israel. Dan itu tidak akan pernah dibiarkan oleh lobi-lobi Israel di Washington. Obama harus membayar hutang pada para pendukungnya yang telah mengantarkannya menjadi orang nomor satu AS. Jika tidak, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya. Hal seperti ini akan terus berlanjut pada presiden-presiden pasca Obama sampai lobi Yahudi Zionis benar-benar hilang dari AS sebagaimana harapan Benjamin Franklin. So, jangan heran jika di negara lain pun termasuk negara kita juga sudah dicengkeram oleh kekuatan konspirasi Yahudi Zionis.




[Tulisan ini dikutip dari tulisan Supriyadi, S.Si di eramuslim.com, dengan berbagai perubahan/ penyesuain oleh penulis]